Sabtu, 18 Mei 2013

Negri Seribu Bintang

Bagi para pendongeng, menggunakan kata bintang dan negri mungkin merupakan pilihan diksi yang tepat untuk menggambarkan Agung nya kebesaran Tuhan. Mereka memiliki imajinasi tentang cahaya yang mengkilap dan berkedip - kedip seolah bermain mata. Lain sisi Negri bagi pendongeng adalah suatu hamparan luas yang dilengkapi dengan istana putri cantik jelita nan mempesona. Tak luput dari kuda putih yang setia menemani Puti untuk berjalan - jalan dengan anggunnya mengelilingi kawasan istana. Seperti itulah kiranya tentang Negri dan Bintang.

-------------------------------------------------------------------------------------

Sinar gemerlap di sore hari yang diselimuti Merah Jingga Kuning Biru Nila dan Ungu serta derasnya bunyi "gemercik" air di pinggiran sungai melengkapi persiapan para remaja masjid dan pemuda yang memiliki impian di kota yang kecil. Aku menjadi salah satu bagian dari itu. Untuk mengilhami kota yang kecil ini, aku bersyukur dapat dipertemukan dengan kumpulan remaja masjid yang selalu punya impian masuk ke surga dengan lukisan cahayanya serta pemuda yang memiliki banyak impian untuk membuat kota kecil ini menjadi negri seribu bintang. Ya Seribu bintang.

Salah satu impian dari anak kecil yang tinggal di pinggir kali serayu perlahan sudah terwujud. Ya, dia membentuk istana kecil dilengkapi dengan berbagai macam keindahannya seperti tempat istirahat berbintang, tempat bernyanyi, dan istana kolam air. Sungguh apa yang dipikirkan oleh pemuda ini dalam hidupnya selama ini. Ketika remaja yang lain memilih untuk menghabiskan masa mudanya, mungkin pemuda yang punya impian ini menghabiskannya untuk melamun dan memandangi sekitar sungai.

Istana Pinggir Kali Serayu

Kolam raja di malam hari
Sang Raja sepertinya masih merasa kurang dengan istana yang telah dibuatnya. Dia menginginkan istana itu dapat terlihat megah ketika ada Raja lain yang datang dari negri lain yang membawa begitu banyak kepentingan. Raja menginginkan istananya gemerlap dengan bintang dan megah. Hingga suatu hari, raja membuat sayembara bagi siapa yang bisa membuat istananya terlihat seperti dikelilingi kilauan bintang, maka pemuda tersebut akan mendapatkan kesempatan merasakan nyamannya istana. Dan pada akhirnya, beberapa kumpulan remaja masjid yang hidup diera digitalisasi memberanikan diri untuk menyulap istana raja agar terlihat megah sehingga raja dari negri lain betah untuk tinggal di Negri seribu Bintang ini.

Para remaja masjid itu menyiapkan berbagai amunisi untuk menyulap istana raja menjadi negri seribu bintang. Karena raja hidup di era digitalisasi, maka raja memerintahkan untuk dibuat seindah mungkin bentuk dari istananya dengan kekuatan digitalisasi dan para remaja masjid itu memilih dengan cara Cut to Cut. Para remaja masjid harus berjibaku keras untuk memastikan bahwa istana raja benar adanya memiliki seribu bintang. Dua diantara mereka mempersiapkan pistol rekam serta buku catatan digital untuk mengatur posisi istana yang akan direkam --baca: di dokumentasikan--. Dua remaja masjid ini menggunakan papan cat untuk memperoleh posisi yang tepat agar pengisian "seribu bintang" dapat dibuat dengan baik.


Proses persiapan pistol rekam

mempersiapkan buku catatan digital untuk mengatur presisi istana yang akan di rekam
Sedangkan tiga remaja masjid yang lain --termasuk aku-- mempersiapkan pencahayaan dari satu sudut ke sudut yang lain menggunakan lampu sorot berkekuatan 1000 watt. Proses itu seperti dongeng jaman dulu ketika membuat seribu candi. Mengapa? karena disetiap ruangan istana tersebut harus tersentuh cahaya agar seribu bintang dapat terealisasi. Perlahan kami mulai naik dan turun tangga untuk memancarkan 1000 watt di setiap ruangan dan terekam dengan baik oleh pistol rekam.

Persiapan lampu sorot 1000 watt

Pantulan cahaya --biasa disebut dengan flash--
Setelah beberapa jam, akhirnya proses itu selesai. Meski belum selesai sepenuhnya, sepertinya para remaja masjid juga memiliki impian dengan caranya mereka sendiri dan di era mereka sendiri untuk membuat Negri Seribu Bintang dengan sempurna. Para remaja ini memiliki kesamaan dengan sang raja di masa muda karena menghabiskan waktunya untuk melamun dan bermimpi. Seperti inilah cara mereka merealisasikan mimpinya secara perlahan. Terima kasih untuk sang Raja yang memberikan kesempatan pada remaja masjid untuk mewujudkan mimpi mereka.

Ada satu hal yang harus disadari di sini. Membangun istana di tanah kelahiran sendiri mungkin jauuuuuuuh lebih baik dan nyaman untuk dinikmati dari pada harus baku hantam memperebutkan tahta di wilayah lain. Jadi memang benar adanya bahwa wilayah ini adalah wilayah yang kecil, sebut saja Banjarnegara. Namun wilayah ini memiliki pemuda yang mampu merealisasikan mimpinya dan pemuda masjid yang selalu ingin memperoleh jalan ke surga dengan cara yang istimewa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan di Respect