Selasa, 28 Mei 2013

Rinduku pada Lilin dan Terangnya Seribu Lampion ditahun 2009

Begitu banyak komentar mengenai prosesi Waisak di tahun 2013 ini. Aku tidak begitu paham apakah ini hanya terjadi tahun ini atau di beberapa tahun sebelumnya. Aku sendiri memiliki asumsi setelah datang dan menikmati prosesi waisak dari awal hingga di batalkannya penerbangan lampion pada tanggal 25 Mei 2013. Konon katanya berdasarkan akun twitter dari Borobudur, 1000 lampion di terbangkan pada tanggal 26 Mei 2013 karena susasana yang terang. Bagiku, Waisak tahun ini serasa kehilangan momentum ibadahnya. Aku tidak mengatakan secara religi karena yang namanya ke khusyukan ibadah ya hanya dirasakan oleh mereka yang menjalankan, sedangkan aku disini hanya menikmati prosesi nya. Ini semua bukan sekedar salah dari pengunjung yang begitu banyak dan banyak pula dari mereka yang kurang memahami etika "merekam/mendokumentasikan" momen. Dan juga kesiapan panitia karena secara mengejutkan pun aku memperoleh RUNDOWN acara yang disebar melalui sosial media. Jika sudah seperti itu maka dari pihak panitia penyelenggara Waisak pun seharusnya sudah memiliki langkah agar acara bisa dinikmati dengan hikmat. Namun sepertinya hal itu tidak terjadi, membludaknya pengunjung dan para pemburu lampion pun tidak bisa di hindari. Bahkan parahnya, mobil panitia sendiri tidak bisa masuk di jalur Manohara Resort. 

Entah apa yang terjadi pada pelaksanaan Waisak tahun ini. Asumsiku adalah ini bukan kesalahan satu pihak. Di satu sisi, Waisak yang sudah di publikasi oleh panitia seharusnya sudah bisa diantisipasi dan belajar dari tahun - tahun sebelumnya untuk menangani banyaknya pengunjung yang tidak beribadah. Namun di satu sisi, para pengunjungpun sepertinya memang terkena dampak sosial media untuk terus menunjukan bahwa mereka menikmati acara tersebut. Tidak semua pengunjung salah, mereka punya hak yang absolut untuk datang karena acara itu memang di buka untuk umum dan dampak ekonomi yang begitu besar bagi warga sekitar. Hanya saja cara menikmati mereka yang tidak memperlihatkan kesopanan yang menurutku merusak esensi ibadah. 

      -----------------------------------------------------------------------------------------

Jujur saja, aku rindu dengan momen penerbangan lampion. Aku pernah datang saat itu tahun 2009 bersama teman - teman dari PPC dan UFO. Saat itu, memang banyak dari kami yang penasaran mengenai momen Waisak, terlebih mahasiswa baru sepertiku yang sebelumnya tidak pernah mengetahui bagaimana prosesi waisak. Saat itu sebenarnya aku pun masih belum paham mengenai indahnya prosesi waisak. Namun temanku, @mas_cah atau biasa dipanggil Cahya, mengajak ku dan meminjamkan aku kamera. Wah, ini sungguh pengalaman yang luar biasa. Bagaimana tidak, sudah di ajak, dipinjami kamera pula. Luar biasa memang jasa mantan ketua PPC ini. 

Aku sendiri sama sekali tidak mengerti seperti apa prosesi Waisak itu berlangsung dan bagaimana cara menikmati dan mendokumentasikan momen itu. Karena banyak dari kami --khususnya mahasiswa baru-- yang tidak mengerti prosesi ini, maka kami di ajak jalan - jalan malam oleh mas Yogi. Saat itu juga aku menyadari bahwa mas Yogi memang MARMOS (marai emosi, bahasa jawa dari suka bikin emosi). Bayangkan saja, dia dan beberapa mas - mas PPC yang lain mencoba mencari jalan untuk masuk ke dalam Borobudur. Ditengah keinginan kami, ditemukanlah segerombol bocah asli daerah Borobudur. Mereka menunjukan jalan "tikus" untuk masuk ke Borobudur di malam hari.

Niat kami sebenarnya simpel, hanya ingin mengerti spot - spot mana saja yang keesokan harinya bisa di dokumentasikan. Karena waktu itu satu hari sebelum pelaksanaan, jadi apa yang kami lakukan di pelataran Candi Borobudur tidaklah merusak esensi ibadah mereka. Justru kami disini melihat tempat mana saja yang harus dihindari agar tidak mengganggu proses peribadatan keesokan harinya. Lalu berjalanlah kami untuk menelusuri dan mencari tempat tersebut. Akhirnya kami mendapatkan tempat dimana prosesi itu berlangsung. Dulu lokasinya tidak berada di pelataran Candi Borobudur seperti yang terjadi beberapa tahun belakangan ini. Dulu tempatnya jauh dari Candi karena dulu Candi sama sekali tidak diperbolehkan untuk umum saat prosesi Waisak berlangsung. Candi hanya digunakan untuk proses ibadah Biksu dan Umat Budha dan mereka mengelilingi Candi di malam hari.

Masuk ke Borobudur malam hari (2009)

Tempat Ibadah yang tidak boleh dimasuki oleh pengunjung saat prosesi berlangsung, namun kami mengambil dokumentasi satu hari sebelum tempat ini digunakan.
Begitulah sekiranya rasa penasaran dari kami yang masih baru dan sama sekali belum mengerti prosesi Waisak. Setelah mengetahui tempat - tempatnya, kami menuju penginapan yang berada di rumah warga. Setelah lelah menyelimuti benak kami, akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat.

Gemuruh pagi dan kegaduhan yang ditimbulkan oleh orang - orang penasaran membangunkanku di pagi hari. Tidak terasa sudah pukul 6 pagi. Aku bergegas membersihkan diri dan mempersiapkan diri untuk berjalan kaki. Karena aku tidak tahu harus bagaimana caranya agar mencapai Candi Mendut, maka aku ikuti arahan dari para kakak angkatan. Berangkatlah kami menggunakan angkot, namun angkot itu tidak diperbolehkan melaju hingga Candi Mendut. Akhirnya kami memutuskan untuk turun di pertigaan yang ada Tugu Pahlawannya --sekitar 2 KM dari Candi Mendut-- dan beralih menggunakan delman hingga ke Candi Mendut. Berhubung prosesi belum di mulai, kami memutuskan untuk santap pagi karena perut belum berisi.

Setelah kami mengisi perut, tibalah para Biksu dan Umat Budha yang akan bersembahyang. Mereka beriringan dan rapi saat memasuki area Candi. Dahulu, setiap majelis umat memiliki tempatnya masing - masing untuk beribadah. Dibagi setiap majelis dan ada dari beberapa prosesi ibadah yang tidak boleh di dokumentasikan. Saat itu sangat ketat dan para pengunjung pun lebih teratur karena jumlahnya yang tidak begitu membludak. Prosesi Waisak sangat tenang dan sakral, bahkan bagi kami yang baru pertama kali ikut dalam prosesi itu merasa sedang berada di negri orang karena sama sekali merasakan suasana yang berbeda. Mulai dari doa hingga bahasa yang digunakan oleh Umat Budha. Sungguh prosesi yang sangat mempesona. Banyak nilai - nilai keramahan yang ditunjukan oleh umat Budha saat itu. Mereka tetap menyapa pengunjung dan pengunjungpun menghargai prosesi. Bila dikaji secara teknis, mungkin dulu para pengunjung yang ingin merekam prosesi tersebut sudah menyiapkan amunisinya dengan baik. Mereka membawa lensa "tele" sehingga tidak begitu dekat dalam mengambil gambar. Hanya saja ada beberapa yang tidak memiliki lensa "tele" --termasuk aku-- yang mencari celah agar bisa mendokumentasikan prosesi. Tidak harus terlalu dekat, cukup mengambil inti dari prosesi tersebut dan tidak mengganggu jalannya ibadah.

Arak - arakan menuju Candi Mendut

Biksu yang akan memimpin umatnya beribadah

Saat prosesi berlangsung pun, aku mendapatkan beberapa dokumentasi yang cukup menarik. Aku memahami cara mereka beribadah dan cara mereka untuk berbagi dalam doa. Sungguh prosesi yang banyak mengena pada Waisak di tahun 2009 ini. Selain itu, aku juga pertama kali melihat ada traveler yang "selo" banget. Kebanyakan orang membawa lensa "tele", namun orang ini tidak tanggung - tanggung. Dia membawa seperangkat alat rekam yang dahsyat. Alasannya adalah agar tidak mengganggu prosesi ibadah, karena dengan alat ini bisa merekam dari jarak yang cukup jauh dan mendapatkan hasil yang bagus. Karena saat itu aku masih mahasiswa baru jadi melihat hal seperti ini merupakan hal yang sangat menarik dan selalu aku ingat. Disitu pula aku mendapatkan pelajaran tentang cara mendokumentasikan sebuah prosesi yang menyangkut ibadah dan  tidak mengganggu jalannya ibadah tersebut.

Setiap majelis yang memiliki caranya masing - masing dalam beribadah

Sello yo mas, hehehe

Membagikan semacam "tasbih" untuk berdoa (photo by: @mas_cah)

Air Berkah yang sedang di doakan oleh para Biksu (photo by: @mas_cah)

Setelah hampir 6 jam mengikuti prosesi Waisak, akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke penginapan. Kali ini lebih unik. Karena kami benar - benar berjalan kaki hingga Candi Borobudur. Itu pertama kali bagiku untuk ikut hal semacam ini. Sungguh sangat mengena di pikiranku hingga saat ini. Karena tubuh yang lemas dan keringat yang mengalir deras hingga membasahi semangat kami, akhirnya kami memutuskan untuk istirahat sejenak. Ada dari beberapa dari kami yang memutuskan untuk pulang ke Jogja karena saat itu kami berpikiran bahwa prosesi tidak diperbolehkan untuk diambil gambarnya. Berkuranglah jumlah dari kami yang ingin menikmati prosesi hingga akhir. Sebenarnya saat itu juga aku juga ingin memutuskan untuk kembali ke Jogja. Karena hujan yang sangat deras dan tidak membawa jas hujan akhirnya aku bersema beberapa teman yang bernasib sama mencoba bertahan di penginapan.

Hujan reda sekitar pukul 6 sore, saat itu juga kami mempersiapkan diri untuk meninggalkan rumah penginapan. Namun niatan kami untuk pulang ke Jogja terhenti setelah ada bocoran informasi jika akan ada penerbangan lampion di malam hari.  Akhirnya yang tersisa dari kami menyalakan kendaraan kami dan bergegas menuju tempat parkir yang ada di dekat Manohara Resort. Kami masuk ke tempat yang semalam didokumentasikan bersama. Saat berjalan ketempat itu, kami diberitahu tempat yang akan di jadikan penerbangan lampion. Tempatnya tidak begitu jauh dari tempat ibadah yang telah kami dokumentasikan. Tapi disini jauh lebih tenang karena para pengunjung berkumpul di tempat penerbangan lampion, bukan di tempat peribadatan. Setelah kami memasuki wilayah tersebut, ternyata sudah banyak sekali wartawan dan pengunjung yang sudah menunggu disitu. Entah dari mana juga mereka mengetahui informasi tersebut. Namun disini  kami sebelumnya tidak mengerti jika akan diadakan penerbangan lampion karena tidak ada RUNDOWN yang kami miliki.

Lokasi penerbangan lampio yang berbeda dari lokasi tempat ibadah

Proses penerbangan lampion

Lilin di sekitar lampion sebagai doa untuk menerangi keindahan alam semesta, jumlahnya hampir ribuan

Setiap orang menerima lampion secara GRATIS dan di doakan oleh Biksu sebelum mereka menerbangkan lampion tersebut

Seribu lilin yang dipasang di pelataran Candi.  Gambar ini diambil setelah prosesi  ibadah selesai


Rasa sabar ini selalu setia menemani benak ku yang sama sekali belum pernah menikmati prosesi yang sakral nan mempesona ini. Aku juga merasa senang karena satu tempat bersama para pewarta yang senantiasa menunaikan tugasnya dari pagi hingga petang untuk mendokumentasikan momen sakral ini. Setelah menunggu bebera jam, akhirnya prosesi ibadah selesai. Para Biksu pun berjalan menuju tempat penerbangan lampion ini. Mereka semua mengajak para pengunjung yang hadir di tempat itu untuk hening sejenak dan bersyukur atas rahmat Tuhan yang memberikan kesehatan pada prosesi kali ini. Lalu satu persatu dari panitia berjalan menata Lilin dan membagikan lampion disetiap cerahnya lilin yang menerangi padang rumput yang kosong saat itu. Setelah lilin tertata rapi, para Biksu pun berjalan lurus sesuai arah lilin dan setiap pengunjung di persilahkan untuk membentuk barisan sesuai dengan barisan lilin yang telah dibentuk. Mereka dipersilahkan untuk menyalakan lampion dan didoakan oleh Biksu yang ada di amsing - masing pusaran lilin agar doa mereka sebelum menerbangkan lampion dapat dilihat dan didengar oleh Tuhan. Aku pun ikut berdoa dan ikut menerbangkan lampion. 

Kaget, seneng, capek, berkeringat, kucel, dan bahagia pastinya menyelimuti otak dan perasaanku saat itu. Mahasiswa baru yang hampir tidak mengerti apapun tentang cara dokumentasi mendapatkan moment seperti ini. Aku merasakan proses ibadah yang sangat hikmat dan tenang. Tidak ada hiruk pikuk yang mengganggu jalannya ibadah, bahkan mendapatkan kesempatan untuk menerbangkan lampion yang jumlahnya ribuan tanpa di rencana terlebih dahulu. Seperti itulah sekiranya kenangan Waisak di tahun 2009. Aku tidak mengerti mengapa semakin tahun semakin banyak keluhan tentang Waisak, bahkan yang terakhir kemarin aku ikut menikmatinya. Aku hampir tidak merasakan apapun mengenai hikmat sebuah ibadah, mungkin ini karena pengunjung seperti aku begitu banyak dan jauh lebih banyak dari yang ibadah sehingga sangat mengganggu proses ibadah para umat Budha. Apa lagi saat kegiatan malam hari yang diganggu oleh telatnya PEJABAT yang memperkeruh suasana. Ditambah lagi teriakan "huuuu" saat pengumaman lampion di batalkan. Aku merasakan keanehan disini. Ibarat kata, "sing ndue gawe sopo sing riweh sopo" (yang punya hajatan siapa yang membuat ribut siapa). Semoga saja tahun depan bisa di perbaiki mulai dari proses perencanaan yang disusung oleh panitia dan para pengunjung yang seharusnya semakin bijaksana :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan di Respect