Rabu, 15 Mei 2013

Terik yang menarik tidak hanya ada di Jakarta

Begitu banyak potensi yang dimiliki oleh semua lulusan "akademis" yang merelakan hidupnya sendiri untuk dimanipulasi oleh pemikiran - pemikiran dari barat. Jangan salah duga, justru manipulasi pemikiran barat itulah yang menyebabkan mengapa menulis harus tetap ada, karena tanpa adanya dokumentasi melalui m
edia bahasa maka pemikiran barat yang selama ini diburu hingga rela membayar "100juta" pun tidak akan ada.
                                              -----------------------------------------------

Semenjak aku memutuskan untuk "menjambul" rambutku, sepertinya gendang telingaku tak pernah lekang dari celotehan bapak Umar Bakri yang ada di depan 40 pasang mata dalam ruangan ukuran 10 x 10 meter. Singkat saja, pak Umar Bakri yang menjelma menjadi belahan bumi maupun erosi sungai selalu mendambakan betapa bangganya dia jika melihat muridnya memperoleh "pekerjaan". Suaranya seolah memiliki aliran alto yang mudah berubah menjadi tenor dalam 2x45 menit. Begitu tinggi dan tegas untuk selalu mengotori papan hitam untuk menjadi putih secara coretan. Tetesan keringat seolah tak diperdulikan sekalipun bulu lubang hidung murid yang ada didepannya sudah merasakan aroma yang tak begitu manis.

Begitulah bapak Umar Bakri mengajarkan secara bergantian dan penjelmaan untuk membimbing muridnya memperoleh "pekerjaan". Bagusnya lagi,setelah dimanipulasi secara Kurikulum lebih dari 3 tahun, mereka beserta aku melanjutkan manipulasi dalam bentuk silabus yang begitu meyakinkan. Sampai - sampai aku melakukan Sholat Tahajud untuk mencapai manipulasi silabus tersebut. Konteks silabus ini semakin fokus untuk menggali gelombang alfa hingga delta yang memacu dinamo otak kananku berkeringat lebih deras ketimbang raga--baca: tubuh--. 

Ya, jujur saja,aku hampir tidak menemukan celotehan dari bapak Umar Bakri versi warna coklat dan bapak Umar Bakri versi modis yang menyusun kalimat bahwa "potensi dikota asal kalian bisa membuat kalian lebih matang". Hampir semua berbicara tentang Jakarta dan setelan kantor. Namun bapak Umar Bakri yang bertopi selalu mengingatkanku bahwa "menikmati hidup tidak harus terjun dalam traffic jam". Aku di ingatkan bahwa bekerja merupakan salah satu cara untuk menikmati hidup. Salah satunya untuk menikmati terik yang dibawahnya ada warna hijau tersusun rapi diatas balok - balok coklat.

Mungkin Maksudnya adalah seperti ini, aku artikan saja secara denotasi bahwa aku tinggal di desa dan aku sangat siap untuk terjun didalam traffic jam ku sendiri. Beginilah traffic jam ku, berwarna hijau dan disusun oleh balok - balok coklat. Itu terik yang akan ku hadapi setiap pagi mulai dari aku memindahkan tirai toga dari kiri ke kanan. Dan ini akan menjadi ceritaku dalam 30 hari kedepan, selamat menulis..... :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan di Respect