Rabu, 09 Oktober 2013

Sang Sepeda

Beribu kata dan menghujam pikiran merupakan sebuah pola yang sepertinya menjelma menjadi bahasa. Bahasa yang memiliki literatur untuk mengatur agar mudah mengulur alur yang masih simpang siur. Tak jelas kemana arahnya dan tak tahu apa maksudnya. Terkadang bermaksud memuji namun tertangkap basah menghina, terkadang bermaksud menghina namun sama sekali tidak tertindas oleh susunan kalimatnya. Semua seperti berbahasa kalbu yang mana harus lebih bisa dekat dengan komunikatornya agar mengerti maksudnya. Maksud yang mungkin hanya diinginkan secara tersirat dalam sebuah surat. Kali ini suratnya tidak perlu menunggu lama, tidak perlu lagi menunggu Sang Sepeda memasukan surat seperti sepuluh tahun silam dengan perangko yang selalu di koleksi oleh anak - anak oleh jaman itu.

Sang merupakan sebutan yang seolah sangat anugrah bagi yang di sebutnya. Sang seolah - olah juga merasuk pada sukma yang bernyawa, hampir tidak diperbolehkan untuk tidak yang bernyawa. Begitulah sekiranya Sang di perbolehkan setelah muncul dalam tatanan bahasa. Aku mencoba berfikir bahwa Sang adalah seperti The pada tata bahasa Inggris. Namun banyak sekali yang memperdebatkan itu. Ah, bagiku ketika mendengar dan melihat kata Sang aku hanya akan teringat pada Sang Kodok karena saat aku akan pulang sekolah dimasa berseragam kecil aku selalu menyanyikan itu. Aneh rasanya jika Sang selalu di perdebatkan dengan The untuk bahasa yang universal. Aku tidak akan peduli itu, aku hanya peduli bagaimana cara guru aku memberitahu padaku bahwa ketika aku menggunakan kata Sang maka aku akan menghormati hal itu. Baiklah pak guru yang sekarang sudah beristirahat dengan tenang, Sang yang telah kamu jamah di pikiranku akan tumbuh pada proses Sang yang berbeda dari Sang yang lain. Kali ini aku berfikir tentang roda dua yang sepertinya tidak pernah jatuh ketika kita jerujinya mulai berputar, rantainya mulai bergerak dari depan dan kembali lagi pada lingkaran besar dan kecil serta tajam. Iya, aku berfikir tentang Sang Sepeda, Sang yang memiliki seribu nyawa.

Sebelum aku memulai berfikir tentang Sang Sepeda, aku mencoba berdamai dengan apa yang ada di dalam roda dua yang selalu berputar. Aku mencoba memperhatikannya. Aku mencoba melihat dari posisi duduk ku saat aku mengayuhnya, lalu aku mencoba melihat juga saat orang lain ikut mengayuh. Mataku menangkap bahwa aku di kelabuhi sihir yang nyata bahwa roda dua itu mampu berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Aku masih menganggap ini sihir karena saat pertama kali aku belajar untuk mengayuhkan ke dua roda tersebut, aku selalu di bantu oleh dua roda lagi yang lebih kecil. Aku masih tidak percaya mengapa hanya dua roda dapat berpindah pindah tempat. Hari demi hari pun terlewati dengan bantuan dua roda kecil di sampingnya dan kini menuju pada kondisi yang nyata bahwa aku harus belajar hanya dengan dua roda saja, tanpa bantuan si kecil. Akhirnya aku menyadari bahwa dua roda kecil itu seperti malaikat bagiku, dia membantu ku saat aku di mantra oleh kekagumanku akan roda dua yang bisa berpindah - pindah tempat. Malaikat yang selalu membantu aku bahwa aku harus percaya akan keajaiban alam yang setiap hari akan selalu aku temukan pada hari - hari berikutnya setelah ini. Dan aku harus siap menghadapi sihir yang lain, sihir yang akan semakin tidak masuk akal jika aku melihatnya sendirian karena aku akan berdamai dengan hal itu.

Setelah aku berdamai dengan pikiran itu, aku mulai lagi dengan kayuhan demi kayuh. Setiap hari aku kayuh, dari rumah menuju sekolah, dari sekolah menuju tempatku mengaji, dan dari tempatku mengaji aku kembali lagi pada rumahku. Begitu gembira setelah aku berdamai dengan pikiran itu. Pikiran yang dianugrahkan untuk ku agar aku mampu bertahan dari sihir - sihir lain setelah ini. Aku juga merasa bahwa dengan sepeda ini aku merasa lebih cepat dan kuat, aku belajar dari hal itu. Hal yang selalu membawaku pada tempat dimana aku harus mengisi otak yang katanya tak akan pernah mampu di kuasai oleh manusia sepenuhnya. Aku sempat tidak percaya dengan mitos bahwa Einstein hanya menggunakan sepersekian persen otaknya dari jumlah 100% yang dimiliki. Lalu dimana puluhan persen yang lain?sebegitukah otak itu diciptakan? apakah adil jika di ciptakan namun tak dapat di gunakan? saat itu pula aku mulai tersihir lagi dengan ungkapan - ungkapan yang ada di dalam kelas.

Ungkapan - ungkapan yang semakin misterius untuk ku ketahui itu pun selalu bermunculan. Cara munculnya pun bak sim salabim aba kadabra, tiba begitu saja. Seperti halnya salah satu temanku yang sedari dulu hanya diam ketika melihatku yang seolah berdiskusi dengan buku. Mungkin temanku itu penasaran dengan raut mukaku yang semakin suram ketika membaca satu persatu maksud dari penjelasan setiap buku tersebut. Ia tiba dihadapanku dengan senyum manis yang lebar. Tetiba aku membayangkan sosok putri yang selalu di sebut dalam kisah Sang Kodok yang selalu di nyanyikan di kelas sebelum pulang. Setelah aku menatap cukup lama dan dia tersenyum dihadapanku, ia mulai dengan menyapa aku. Sungguh suara yang tak pernah aku duga sebelumnya. Aku yakin saat itu pula bahwa tak ada kain meskipun itu kain sutra untuk di umpamakan lembut dan halus suaranya.

Aku sadar bahwa dia adalah satu - satunya gadis yang mengayuh sepeda ketika berangkat ke sekolah. Gadis yang selalu menggunakan keranjang sepedanya sebagai tempat tas. Itu berbeda dengan ku karena sepeda yang aku gunakan tidak ada ranjangnya. Ketika aku tanya mengapa ia lebih suka menggunakan keranjangnya, ia hanya menjawab:
"aku begitu menyukai keranjang ini karena ibu dan ayahku yang memasang keranjang ini".
Ah..aku berfikir pula bahwa dia adalah anak kesayangan orang tuanya. Tapi biarlah, itu menjadi urusan dia karena dia yang menikmatinya. Lalu dia tanya pula kepadaku:
"kenapa setiap kamu membaca buku teori kamu selalu suram? ada yang aneh?"
Sontak aku seperti menjilat ludahku sendiri, aku paham dengan apa yang dia maksud. Dia jelas menanyakan kepadaku juga bahwa itu adalah kebiasaanku. Aku menyimpulkan bahwa apa yang aku tanyakan dan apa yang dia tanyakan sebenarnya terjadi pada satu pola, itu hanya basa - basi belaka agar kita lebih dekat. Iya, basa - basi. Basa - basi pun ternyata sudah muncul sedari aku kecil. Entah itu datangnya dari mana dan bagaimana cara aku mempelajarinya. Yang jelas apa yang tadi aku dan gadis itu tanyakan hanyalah basa - basi. 

Tak biasanya sepulang sekolah dia mengajak aku untuk mengayuh sepeda bersama. Aku pikir ini masih pada tahap basa - basi juga. Namun sepertinya dia begitu serius untuk mengajakku singgah di rumahnya. Tak jauh dari jangkauan kayuhanku ternyata aku dan dia sudah sampai dirumahnya. Rumah yang begitu sederhana namun tampak asri karena ada mahkota yang tertanam berwarna - warni. Mahkota bumi yang sering di hinggapi oleh lebah dan mungkin sebagian oleh kumbang di taman. Disamping halaman yang asri ternyata ada sekotak ruang yang di penuhi besi dan rangkaian sepeda. Ternyata orang tua gadis itu adalah kolektor sepeda dan sangat menyukai sepeda. Tidak menunggu lama, gadis itu mengajakku untuk berkunjung ke ruangan tersebut. Ruangan yang ukurannya kurang lebih hanya 5x6 meter persegi ini menyimpan begitu banyak jenis sepeda.

Begitu banyak sepeda yang mahal harganya, namun aku heran mengapa si gadis itu tetap memilih sepeda sederhana yang berkeranjang, bukan sepeda sport yang menawan. Aku masih tetap bingung walaupun dia sudah menjawabnya tadi. Ketika aku sedang melihat sepeda yang tertata rapi itu, ada pria berparas tampan yang mendekat kepadaku dan mengajakku untuk bersalaman. Dia ternyata menanyakan namaku dan memperkenalkan dirinya adalah ayah dari gadis itu. Setelah pria itu berkenalan denganku, gadis tadi pun mendekatiku dan mengatakan:
"ayahku mengumpulkan sepeda - sepeda ini semenjak dia belajar latihan sepeda waktu kecil lo" sembari dia tesenyum kecil dan mengurai rambutnya yang lurus. Ucapan Gadis itu di respon senyum simbul lalu dia dicium dibagian kening oleh ayahnya.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Beberapa hari kemudian setelah aku semakin dekat dengan si gadis, aku makin penasaran dengan apa yang ada di sekitarnya. Mulai dari buku yang dipilih hingga kenapa dia tetap memilih sepeda sederhananya itu. Acap kali aku bertanya tentang kebiasaan dia setelah pulang sekolah, namun dia selalu menjawab dengan cara yang sangat dingin. Seolah dia sedang menyusun rencana untuk menunjukan sesuatu yang berbeda kepada dunia. Ya, dunia yang semakin banyak irama dan konteks yang semakin menjelma menjadi konten - konten kepentingan pribadi. Pada konten sepeda itu pula aku masih berfikir tentang konteks apa yang aku pikirkan ketika melihat sepeda beroda satu.

Rasa penasaran ini semakin tak terbendung. Aku mencoba untuk mengikuti dia setelah pulang sekolah. Berjelaga pada kayuhan yang tak bersuara dan rasa berpaling yang luar biasa agar aku tetap terjaga dari pandangan dia. Pandangan yang tak boleh lepas sedikitpun karena rasa ini semakin membesar. Lalu di sudut gang,aku mencoba berhenti dan memperhatikan apa yang dia lakukan. Ternyata dia menukar sepedanya dengan yang roda satu. Roda yang menjadi jelmaan ketidakseimbangan bagiku saat pertama kali aku melihat di garasi sepedanya.

Tangan kanan membelai kursi sepeda, tangan kiri mengepal pada rangkaian yang kecil dan kedua kakinya berjaga - jaga agar dia tidak jatuh. Perlahan dia gerakan kedua kakinya, tidak di pungkiri juga kaki kanan selalu mengawali dia untuk berada di pedal sepeda itu. Anehnya, apa itu tetap akan di sebut sebagai sepeda jika hanya punya satu roda?dimana letak keseimbangannya?bukankah seimbang itu jika dilihat dari dua sisi? seperti itulkah tanyaku sesaat ketika melihat si gadis berirama dengan sepeda roda satunya. 

Gadis juga mencoba melanglang buana dengan sepeda roda satunya. Sepertinya ia sudah terhasut oleh kemandiriannya untuk bersepeda dengan roda satu. Aku pun kembali mengikutinya secara perlahan, benar - benar perlahan. Aku tidak ingin keberadaankau menjadi momok buat dia. Aku paham bahwa dia tidak ingin banyak orang yang tahu karena dia memilih jalur yang tidak biasa di lewati oleh banyak orang. Melewati jalan pinggir sungai irigasi tidaklah mudah karena kemungkinan dia bisa bertemu dengan segerombol hewan yang di cap sebagai hewan pemalam sedunia. Terkadang mungkin dia juga akan bertemu hewan paling disiplin sedunia ketika begitu banyak pasukan dan tetap bisa berbaris. Aku masih menduga bahwa ini semua pasti mengandung sebuah cerita. Sekali lagi, dia menggunakan sepeda roda satu.

Akhirnya pada satu tempat dimana dia berkelana, dia berhenti  mengayuhkan pedal roda satunya. Aku masih penasaran dengna cara dia "men-standarkan" sepedanya. Ternyata si gadis hanya menggunakan sisi batu untuk melakukannya sehingga sepeda roda satu tetap berjaga - jaga. Setelahnya dia jalan perlahan kedepan, lalu muncul sosok wanita yang begitu cantik. Aku berfikir bahwa dia akan berlatih sesuatu yang sangat rahasia di tempat seperti ini. Namun dari kejauhan pula,wanita itu ternyata menuntun sepeda roda satu juga. Sama persis dengan apa yang di tunggangi oleh si gadis. Hingga akhirnya mereka berdua terlihat seperti sedang beradu kesenangan menggunakan sepeda roda satunya.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kesekian hari setelah aku melihat hal itu, aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya kepada si gadis saat berada di dalam kelas. Awalnya aku agak ragu karena aku takut mengganggu apa yang ingin dia rahasiakan atau lebih tepatnya aku sangat takut kalau aku di anggap sebagai penguntit. Tapi biarlah, biarlah karena aku begitu penasaran mengapa dia bisa sebegitu jauh mengayuhkan pedal dengan roda satunya. Namun saat aku mencoba mendekat, dia hanya berkata
"kemarin ibu ku melihat kamu ada di sebrang arah, kenapa kau tak sempatkan untuk memanggilku?" kata si gadis.
"oh..mungkin aku terlalu terburu buru, jadi aku ga sempat menyapamu" jawabku.
"oh,jadi makna dari terburu-buru saat ini sudah berganti ya. Yang tadinya hanya lewat saja menjadi memperhatikan sepanjang ada?" jawab dia.
aku tak tahu harus menjawab apa dan mencoba untuk memberikan senyum terbaikku agar aku tak begitu malu.
"sudahlah, apa yang ingin kamu tanyakan sudah aku jawab pada tugas puisi nanti. Akan ku pastikan jika aku menyusunnya dengan benar agar kamu tahu jawabannya dengan benar" jawab dia sembari tersenyum lebar dan mengedipkan satu matanya.
Perlahan aku mundur selangkah untuk meraih gagang kursiku. Duduklah aku agar aku lekas hilang dari rasa malu.

Beberapa menit kemudian guru Bahasa Indonesia masuk, dan mempersilahkan si Gadis untuk maju membacakan puisinya. Sepertinya kali ini dia begitu percaya diri tak seperti hari - hari biasanya. Namun ketika dia mulai membaca bagian judul "Sang Sepeda" Aku tersontak diam, aku mencoba melihat ke arah buku yang yang letaknya tidak begitu jauh dari dagu ku saat aku duduk. Aku dengar apa yang dia ucapkan sama persis dengan apa yang aku tulis di buku Bahasa Indonesia ku, Sang Sepeda. Kala itu aku memang selalu merenung dengan kata - kata sang karena begitu banyak perdebatan diantaranya. Aku benar - benar tak menyangka jika gadis itu ternyata juga memperhatikanku, bahkan hingga apa yang aku tulis. Lalu mataku kembali tertuju pada gadis itu dan memperhatikan apa yang dia ucapkan.

                             Sang Sepeda

Jikalau kau masih muram, kau tak pernah paham
Paham tentang kalimat - kalimat yang menantang
Cobalah kau untuk duduk secara tegak
Saat kau melihat coretanmu sendiri

Aku akan datang seperti peri
Peri yang memiliki tongkat sakti
Bukan untuk merubah, namun untuk mengubah
Bukan hanya sekedar berlari, namun berbagi

Jikalau engkau masih bingung mengapa aku memilih sepeda itu
Aku akan tetap menjawab bahwa keranjang menjadi faktorku
Tak usahlah kau pedih dalam memahami sebuah kata
Kata yang akan membuat benda itu memiliki jiwa

Meskipun hanya satu yang berputar
Itu tetap bisa berirama
Bahkan tetap bisa membawaku keliling dunia
Meskipun awalnya aku harus menghadapi pasukan termalas di dunia

Satu yang berputar dan satu yang berkeranjang
Aku sudah berfikir bahwa itu sangat lengkap
Aku sudah di beri tumpangan yang jauh dari kata sempurna
Aku hanya menyerahkan asa ku saja

Keduanya berhati lembut
Meskipun harus bergantian memakainya
yang satu selalu mencium keningku
yang satu selalu bermain denganku

Caranya berbeda, jalannya berbeda
Namun keduanya sama-sama menyukai roda
Ku anggap itu adalah suatu kata yang sempurna
Jika aku tuliskan dengan sepeda, Sang Sepeda

Setelah gadis itu membacakan puisinya ia menuju kearahku. Seolah suara gemuruh tepuk tangan di dalam kelas menjadi back sound ketika menghampiriku. Dengan senyum yang lebih riang dan terkesan lebih mantap ia duduk disebelahku dan berbicara:

"awalnya aku murung ketika aku harus bergantian menggunakan sepeda itu. Tapi keadaan membuat aku harus belajar tentang makna kesempurnaan. Sempurna itu ketika kita bisa menjadikan apa yang di sekitar kita memiliki jiwa. Seperti yang aku alami, meskipun aku tidak bisa lagi menikmati kasih sayang secara bersamaan oleh orang tuaku, aku tetap bisa merasakan kesempurnaan apa yang selalu mereka kasih. Cukup keranjang yang ada di depan sepedaku adalah benda nyata bahwa mereka berdua selalu menampungku di hatinya. Hanya saja kini mereka harus berpisah, sehingga aku harus menjadi kuat seperti sepeda roda satu ku itu. Secara besar terlihat sendiri, namun sebenarnya roda satu itu tetap memiliki dua pedal yang beriringan agar aku tetap bisa mengayuh. Dan aku menyadari bahwa setiap iringan pedal itu tidak berada pada posisi yang sama, Itulah orang tuaku, itulah Sang Sepeda bagiku".

Entah mengapa apa yang gadis itu ucapkan membuatku benar - benar terdiam. Selama ini aku hanya merenungkan tentang kata Sang sebagai bentuk kata bantu agar benda hidup dapat lebih berkesan. Tapi nyatanya si gadis justru memberikanku gambar yang berbeda. Dia menggunakan Sang untuk menghidupkan benda yang mengingatkan akan kesempurnaan kasih sayang kedua orang tuanya meskipun telah berpisah. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa Sang - Sang yang lain akan dia munculkan kembali.

Senin, 09 September 2013

Ego

Hempasan suara roda empat pada tengah pagi ini seolah mengajak aku untuk mengalir. Seperti hilir air dimataku yang semakin terjatuh pada gravitasi wajahku. Aku terperosok pada pagi yang begitu pekat dengan embun. Aku mulai menari pada frekuensi dini hariku yang selalu berlampiaskan ego terbesarku. Ego dimana aku selalu merasa bahwa aku yang memiliki diriku sendiri. Ego yang tak bisa melihat orang yang dititipkan melahirkanku dan memprosesku secara biologis di bohongi oleh jeritan hedonis sejenis. Hedonis yang selalu menamakan Tuhannya sebagai pelindung pusaka kehidupan.

Aku Menjerit seperti mesin roda yang selalu berputar pada poros motor. Seolah dipaksa untuk memindahkan giginya demi laju yang lebih cepat. Kadang aku pun di bantu oleh kampas kopling yang setia berproses utuk ber-reingkarnasi kempali pada roda depan aga aku selamat dari lubang aspal yang tidak bertanggung jawab. Semua karena ego yang entah datang dari mana dan muncul tiba - tiba. Untuk itu maka aku mulai merintis pagi hari dengan balutan selimut coklat bercorak lumba - lumba yang di bawakan Ananda saat dia menyebrangi selat jawa untuk melihat dirinya bahagia di atas pulau dewata.

Setelah aku merasa hangat, aku tetap berputar lagi, lagi, lagi, dan lagi pada ego ku yang selalu menerkam jari - jari kecilku. Aku mulai meremas rambutku agar semua pikiranku bisa terbawa hanyut dengan segala angin malam yang melintasi pohon rindang di depan kamarku. Aku hanya bertaut pada ego yang semakin kasar, ego yang semakin menguasai diriku.

Seketika aku berfikir seolah sepasang sepatu yang diusung dengan tali simpul akan selalu lepas dan tergantikan oleh tali pati. Tapi tampaknya itu tak semudah aku mengunyah mie lidi di malam hari. Itu tak semudah saat aku memilih jenis rumput laut seleraku. Sepasang sepatuku yang hitam, maaf, aku pernah memilihmu dengan sangat bahagia dengan corak warna merah yang ada di pelipis kakimu. Namun entah mengapa kini sepasang sepatu hitam itu juga mulai lenyap oleh egoku.

Hedonis berbalut nama Tuhan yang selalu merasa dirinya introvet. Hedonis yang selalu menganggap semua seolah baik - baik saja. dan hedonis yang selalu menggunakan kesempatannya untuk melindungi bocah yang tak kenal etika. Bocah yang selalu merasa dirinya dibutuhkan. Semua hanya butuh mesin roda,agar aku bisa berputar, dengan malam yang jujur, dengan hembusan yang tenang, dan dengan tatapan yang diam.

Cukup saja aku ingin mengikat pingganggu dengan celana coklat susu, agar aku lebih elegan saat aku berkendara, sehingga mesin roda motorku dapat menyapaku dengan baik dan berkonsentrasi baik dengan kampas kopling yang malang itu. Hanya saja.....hanya saja ego itu mampu aku tenggelamkan dengan cepat. Hanya saja...

Jumat, 14 Juni 2013

waktu

jika aku ada waktu, tolong tukar denganmu
jika aku jadi tuan waktu, tolong berlabuhlah di halamanku
jika aku menjadi wakil waktu, hadapilah dengan syahdu
jika aku mampu menjadi anyaman waktu, panggilah aku

berbelitlah jika aku mencuri waktumu
berbelitlah jiga aku ingin menguasaimu
berbelitlah jika aku terlalu lama menunggu
aku hanya butuh kamu,waktu...

Kamis, 13 Juni 2013

Menjadi Pemanis

Menjadi pemanis tidak harus sadis dan mengemis. Mengemis untuk mendapatkan tetesan tangis yang mengalir deras pada saluran yang dipasang dengan batu dan lubang semen. Lubang yang sudah bergaris dan berbentuk seperti kue lapis mulai ditinggalkan karena makin menjamurnya kue pelangi. pelangi yang warna warni dengan merah jingga atau jingga jambon. Belum ada yang sepenuhnya memahami jingga itu apa dan pink itu apa. Semua terasa pas saja jika kulit putih bermata sipit yang memakai. Aku tidak sedang berbicara mengenai seleraku, aku hanya berbicara mengenai pemanis, pemanis yang selalu tertindas karena ego langit yang selalu mega mendung dan guntur menggelegar.

Menjadi pemanis tidak berlu berlarian kesana kemari karena pemanis merupakan pemanis. Pemanis bukan berasal dari selai yang di hinggapi keju atau coklat misis. Pemanis bukan juga yang di bakar bersama martabak manis diatas wajan alumunium. Pemanis tentu saja memiliki hak untuk terus berhembus hingga tulang rawan ekor bisa memanjang. Memanjang seperti kera sakti dan goku. Memanjang bukan hanya untuk menjadi besar, namun menjadi bebas. Bebas untuk berjalan kemana saja dengan raga yang besar dan jiwa yang teriris.

Menjadi pemanis memerlukan garam untuk menyeimbangkan diri. Menyeimbangkan diri agar bumbu - bumbu dapur yang lain tetap dapat melayani majikannya. Pemanis tentu saja tidak menyadari bahwa dia punya saingan micin yang berbahan dasar MSG. Tentu saja ini menjadi lawan terberatku. Hingga saat ini berat badanku mencapai 67 KG pun disebabkan oleh MSG dan malam hari yang sendiri. Aku hanya butuh untuk stabil pada tahap 65 KG agar aku bisa berlari dan lay up tepat di bawah ring, tidak melulu shooting. Bagaimana bisa aku menjadi enam puluh lima jika pemanis selalu merengek untuk masuk pada teh yang setiap pagi di sedu oleh ibu ku?

Menjadi pemanis perlu mistis yang kuat. Mistis yang mampu memberikan kejutan agar aku benar - benar terkejut. Bahkan jika perlu bulu kuduk merinding dan mata menganga. Menjadi pemanis tidak harus kembali kesana kemari karena masih terpana pada panah arang. Arang hitam yang terus berbekas dari tahun 2010 hingga 2013 ini. Menjadi pemanis selalu tidak ingin tergantikan posisinya karena pemanis selalu menginginkanku untuk hadir di sedu teh nya. Menjadi pemanis pun tidak perlu selalu mengucir rambutnya jika aku mengatakan aku menyukainya. Menjadi pemanis adalah mempengaruhi pikiranku agar aku bisa mengembalikan 65 KG ku. Agar aku bisa tahu bahwa menghisap asap tembakau itu berbahaya. 

Menjadi pemanis adalah tuntutan agar teh yang di sedu setiap pagi benar - benar manis. Menjadi pemanis adalah peran utama bukan karena diksi nya, tapi karena pengaruhnya.

Rabu, 12 Juni 2013

Aku, Angin, dan Hujan Rindu

Aku sedang ingin menangkap angin yang melintas di depan mataku meskipun aku tak mampu melihatnya lebih dari per sekian detik. Angin itu mengajak aku untuk terus berlari berlawanan arah dengan jarum jam. Berlawanan dengan memutarnya matahari. Angin itu tidak peduli bawa sesungguhnya putaran ini hanya kamuflase, efek dari perputaran bumi. Aku berdiri dengan asap yang aku hembuskan dan aku terus mengenggam makna aku berdiri sendiri. Lalu aku bertanya dengan penyebrang jalan di depan rumahku, "mengapa engkau menyebrang jalan?mengapa engkau tidak lurus saja sampai tujuanmu?mengapa harus menyebarng di depan rumahku?disini kan berbahaya untuk menyebrang jalan." Dia hanya menjawab " Bis nya biasa berhenti di situ mas, kalau saya nyebrang disana nanti saya ketinggalan bis."

Ternyata dia hanya ingin mengejar bis yang berhenti di depan rumahku. Dia tidak memikirkan betapa bahayanya menyebrang jalan di rumahku. Bukan karena jalan yang ramai atau lalu lintas yang padat, tapi karena disitu aku tidak peduli dia menyebrang. Aku sedang bermain petak umpet dengan angin. Itu yang membuat berbahaya. Karena dia sudah tua, tulangnya sudah lapuk dimakan usia. Tapi dia ingin tetap menyebrang disitu, dan aku tetap bermain dengan angin.

Aku berbalik arah dan menutup mataku, aku berbisik pada angin dan menanyakan apakah dia sudah pergi? tentu saja tidak ada jawaban seperti manusia menjawab. Angin hanya menjawab dengan aroma, aroma "nginang" yang sudah tidak tercium lagi. Itu pertanda dia sudah pergi. Aku balikan badanku lagi dan aku memandang ke arah dimana orang tua itu seharusnya berhenti menunggu bis. Ternyata sudah tidak ada, ternyata angin menjawab lagi dengan warna asap hitam di dekat tempat itu. Pertanda dia sudah pergi dengan kekasih yang dia tunggu didalam bis lapuk nya juga.

Aku berjalan langkah perlangkah untuk terus berbalik arah. Aku rasa angin ini mulai mempermainkanku. Bahkan ia mempermainkan bayangan pohon yang tertanam rapih di depan rumahku. Aku tak tau mengapa angin terus menggoyangkan ranting dan menjatuhkan dedaunan yang sudah berwarna coklat tua, tidak lagi muda. Ternyata angin ingin berbicara kepadaku, bahwa yang sudah tua, pasti akan jatuh kebawah jika angin yang mempermainkannya. Sedangkan yang muda akan tetap bersinar dengan embun pagi dan senja sore. 

Aku semakin tidak paham karena matahari semakin mencintai senja. Dia terus mengejar senja yang sudah duduk manis di tempatnya. Lalu aku kembali menghembuskan asap dari tembakau ku, asap itu pun kembali di permainkan oleh angin. Arahnya tidak jelas, kesana - kemari. Lalu akan menatap ke atas dan mengadu pada awan, mengapa angin menjadi seperti itu di saat - saat senja. Ternyata angin hanya ingin menangis, karena waktunya habis bersamaku. Angin menangis karena saat senja itu juga mereka kalah oleh hujan, yang selalu menghangatkanku dengan rindu. Angin seolah pergi begitu saja karena hujan rindu yang hadir di depan rumahku. Ternyata angin yang sedari siang hanya mencari perhatianku, karena dia tahu bahwa dia akan ditinggalkan aku karena hujan rindu. Tapi angin tak pernah tahu, bahwa saat dia bermain denganku, aku selalu tersenyum lebar. Tidak menangis seperti saat hujan rindu menemaniku.

Selasa, 11 Juni 2013

Magic is not a trick

Sulap bukan soal pembalap
Siapa tangan cepat dan mulut tepat
Sulap bukan soal berbohong
Siapa lambat dapat tong kosong

Tangan kanan memutar kartu bukan berarti tangan kiri ikut memutar
Tangan kiri memegang kartu bukan berarti tangan kanan ikut memegang
Mata sepasang selalu menatap yang di pandang
kuping terpasang selalu membuat penonton terangsang

Duduk manis tontonan laris
Duduk siku penonton ambigu
Diputar untuk memanjang
Dipajang untuk berputar

Yang mereka tunjukan bukan tentang trik
Yang mereka tunjukan hanyalah kumpulan dari latihan
Latihan untuk memastikan
Bahwa mereka bisa membuat putaran untuk dipajang
Untuk tersenyum lebar

Senin, 10 Juni 2013

Everybody Has Two Face

Isn't it?
Beberapa orang menganggap dirinya sebagai perfectionis. Tapi di dunia ini tidak ada yang sempurna.
Beberapa orang menganggap dirinya paling Istimewa. Tapi di dunia ini tidak lepas dari hal biasa.
Beberapa orang menganggap dirinya penuh luka. Tapi dunia ini merupakan cerminan surga Nya.
Beberapa orang menganggap dirinya bisa berdiri sendiri. Tapi dia selalu menangis saat sendiri.

Ambisi ada di sebelah kiri. Kesabaran ada di sebelah kanan.
Koalisi ada di sebelah kiri. Toleransi ada di sebelah kanan.
Raga ada di sebelah kiri. Jiwa ada di sebelah kanan.
Hidup ada di sebelah kiri. Mati ada di sebelah kanan.

Setiap persaingan mempertemukan iri hati. Setiap persaingan mempertemukan teman hati.
Setiap pertempuran menimbulkan duka. Setiap pertempuran menyisakan bahagia.
Setiap berterimakasih mengharapkan hutang budi. Setiap berterimakasih mengungkap tahu diri.
Setiap pertemuan berakhir perpisahan. Setiap perpisahan bergeming rindu.

Sepeluh ribu berarti kotak tembakau. Sepuluh ribu berarti kotak amal.
Sepuluh ribu berarti retribusi. Sepuluh ribu berarti baik hati.
Sepuluh ribu berarti makan nasi. Sepuluh ribu berarti berbagi.
Sepuluh ribu berarti kaos kaki. Sepuluh ribu berarti alas diri.

Semua serba kiri memiliki hirarki yang tak bisa dipungkiri
Semua yang serba kanan seolah olah menjadi yang terhormat
Bukankah Tuhan memberikan tangan kanan dan kiri agar seimbang??
Bukankah Tuhan memberikan Siang dan Malam agar Bumi tetap berputar?

Jadi setiap manusia memiliki dua wajah untuk tetap seimbang, dimanapun, kapanpun, yang mana digunakan sesuai dengan keadaan apapun.