Jumat, 04 Juli 2014

Telepati






"Telepati itu bualan, makannya Alexander Graham Bell ditakdirkan jadi penemu telepon"

Re (Supernova: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh)

Seberapa sering kau wanita harus menunggu telepatimu datang mengundang? seberapa lama waktumu habis karena terforsir oleh super egomu yang terus berbisik "nanti dulu, yakali kita ngabari duluan". Terus saja menunggu sampai mampus kalau begitu, lock - unlock - lock - unlock, begitu kan sekiranya jarimu menari ditengah gelisah dan keringat dinginmu mulai terkucur? oh ya, kalau di Mobile Phone jaman sekarang ini kan ada jam di setiap active mode? tuh makan tu waktu untuk menunggu. Terus saja berdoa melalui telepati, mau frekuensi AM atau FM? nanti dulu, telepati kan tak semudah itu (mulai membela diri akan kemampuan perasaan atas logika yang selalu diangung - agungkan).

Seberapa banyak kau pria mencari display picture wanita yang dewasa ini mulai berat karena kamera 360 terlalu banyak membawa bedak,  begitu putih. Mampus saja kalau kau terus menunggu foto setengah badan dengan dada di busungkan, terlihat bagus bukan? iya bagus, bagus dan selamat buat kamu yang telah memasuki kepalsuan baru dan diakui atas dasar nafsu. Mulai lah kamu mengelak bahwa itu telepati yang nyata, terangsang karena itu. Benarkah? itu telepati? coba kalau kamu tidak menyentuh mobile phone mu itu, masihkah kamu dapat bertelepati dan mengimajinasikan dia?(Bisa lah, pria itu kan kalau tidak mikir kesenangan pribadinya, pasti ada disekitar selangkangannya "bisiknya lirih")

Tiada habisnya logika hancur atas imajinasi tiap detik, menit, jam. Cukup, aku sendiri belum paham konsep itu. Ada yang bilang itu hanya imajinasi. Bagaimana mungkin imajinasi muncul atas logika? harusnya bebas dan dinamis, bukan terstruktur dan masuk akal? Lalu bagaimana dengan telepati? ada yang bilang bahwa jika bulu alis atau bulu mata jatuh manis diatas permukaan pipi manis, maka ada yang merindukan ku? itu telepati atau imajinasi atas telepati?Coba, coba aku hubungkan, karena telepati tidak dapat berdiri sendiri, harus ada penerima pesan didalamnya, sedangkan imajinasi, bebas. Aku terpejam, berfikir tentangnya, dan kemungkinan yang muncul adalah imajinasi. Kalau begitu, anugrah Tuhan mana yang aku dustakan? orang bilang aku sebagai manusia memiliki hati, tentu saja ada perasaan yang mengkontruksi telepati dan frekuensi untuk mengantarnya. Aku mulai lelah jika karena telepati dan frekuensi aku harus menunggu, sama saja aku menyimpan ide tanpa di ucapkan.

Memulai dengan deretan kotak yang kecil, kabari lah. Sekarang ada Line, We Chat, WA, Kakao Talk, Telegram, oh...oh....bahkan fungsi sebuah telepon yang mulanya diciptakan oleh Alexander masih tersedia. Bahkan sekarang sudah tersaji secara sempurna dengan QWERTY. Tunggu apalagi? tunggu dulu, aku masih terjebak pada keraguan ini, semuanya.

Kamis, 03 Juli 2014

Turbulensi





catatan: Sambil dengarkan pesawatku terbang ke bulan by Memes akan lebih meriah :)



Sudah 24 tahun lebih lamanya akhirnya aku mengakhiri rasa penasaran akan rasanya memiliki sayap. Esensinya adalah terbang dan menembus awan. Mulanya aku aku hanya bisa "motong abung njaluk uiteee..." (pesawat terbang,berikan aku uang), dan aku menjadi anak tiri ketika keluarga membahas tentang pesawat terbang, mengapa? tebak saja berdasarkan kalimat awalku. Bayangkan saat aku terbang dengan media Boeing, rasnya ingin selebrasi seberti Robin Van Persie, terbang!! Aku hanya berharap, kalian tidak menduga - duga apa yang akan aku lakukan, seperti kebingungan melepas sabuk pengaman.

Dibalik semua selebrasi itu, ada satu zal alir yang aku alami secara konstan, dia diberi nama turbulensi. Geraknya tidak beraturan, namun bisa di prediksi ketika bertemu awan. Perut kosongku selama dua jam terasa berteriak, seolah aku menggelitik usus dan lambungku, atau minimal aku menyamakan saat mengendarai kendaraan bermotor (termasuk mobil) selepas melewati jalan yang menanjak lalu mendadak turun, "Nyer" orang Jawa menyebutnya. Hanya satu organku yang konstan pula berdetak kencang, Jantung. Entah mengapa begitu cepat dan sembari sulit untuk menghirup napas dalam - dalam.

Gagasan langit biru yang selama ini diceritakan, aku lebih dekat melihatnya. Hamparan Indonesia yang hijau, aku lihat lewat celah berkaca selama Jakarta - Jogja. Tak lupa panduan doa dan cara menyelamatkan diri. Sebenarnya satu hal ini yang membuat imajinasiku buyar sesaat, gelembung - gelembung udara panik akan sorotan televisi tentang gagalnya sebuah penerbangan. Sempat kesal sesaat, tapi itu adalah bukti, bukan janji. Bukti bahwa mereka peduli akan keselamatanku. Peduli, iya peduli :)

Lagi - lagi turbulensi hadir ditengah rasa setengah yakin bahwa mereka peduli. Goyah, berdegup kencang lagi, lagi, dan lagi. Tak elok jika melihat ke bawah melalu celah, tak indah bila terus terpejam karena jantung ku mulai menghujam. Bisik berlari angan kembali, kaki bergetar tangan gemetar, mulut bergumam pikiran terdiam. Mulai lah dari kata terakhir, diam maka pesawatku akan terbang ke bulan. Iya, terbang ke bulan.

Turbulensi dalam bentuk sesi, fase, dan konteks. Turbulensi dalam bentuk manusia, perasaan, dan emosi. Turbulensi dalam bentuk pikiran, angan, dan imajinasi. Turbulensi ketika bertemu awan, oh tunggu dulu, sudah 24 tahun ternyata aku baru merasakan turbulensi. Pertanyaannya adalah kemana saja aku selama ini? Sebelum berfikir untuk menyusun rangkaian kalimat atau setidaknya berimajinasi untuk menjawab, aku hanya ingin terbang berkali - kali lagi, merasakan turbulensi seribu tahun lagi, dan berkata "lihatlah, aku sudah melihatmu dari ketinggian :)"

Rabu, 02 Juli 2014

Singkat Cerita dari Tangan

Hilang jari manis untuk melakukan "promise", lalu muncul kelingking untuk mengalahkan ibu jari. Ibu jari mengajarkan cara mengalah pada si kecil. Bukan permasalahan gajah kalah dengan satu semut atau ratusan semut, hanya sebagai asosiasi makna bahwa yang besar yang mengalah, yang besar yang mengajarkan. Perhelatan berlanjut pada jari telunjuk yang selalu mengorbankan dirinya. Bahkan acap kali jari tengah menjadi citra buruk bagi jari telunjuk yang berada di sebelahnya. Bila saraf mereka tergerak oleh frekuensi yang sama, bisa jadi jari telunjuk termakan oleh hasutan jari tengah.

Saat mulai mengepal, terlihat manis berjejer dengan pinangan di jari manis. Tentu saja manis untuk tersenyum, bukan manis untuk memukul. Garis - garis yang membentang dan konon bisa dibaca menjadi celah untuk  berjabat. Sesekali bisa dicoba untuk menerawang masa depan dari garis tersebut. Ada yang bilang menarik, ada pula yang bilang musrik. Kalau aku, sederhana saja, bolehkah aku lihat masa depanku yang tergenggam di tanganmu? :)

Rindu

Ayunan daun di seberang pandang mata, membawa satu kotak yang ditemani hujan. Senyum simpul muncul tak beraturan saat musik menggema dan yang lain tertidur pulas saat hujan. Hujan, musik, tidur pulas adalah alasan yang sangat tepat saat Puasa. Bongkahan kotak perlahan masuk pada jeruji  balkon kamar empat kali tiga. Suaranya gemuruh, mungkin gedung sebelah juga memakai genting yang sudah lapuk. Rasanya ingin ku teriakan " Pak, sudah saatnya genteng kosan mu di ganti, oh tidak, tutup saja tirai besarnya itu, aku tak mau dituduh mengintip anak kos mu yang katanya cantik". Cih, cantik apanya, mereka semua rata. Aku gusar karena pandanganku dan kotak yang datang bersama hujan terkadang terganggu rasa bersalah duduk di balkon.

Oh iya, Rindu. Aku meliht rindu. Itulah sebabnya mengapa kotak itu mulai datang perlahan. Padahal secara realita, di sebrang berwarna merah marun dan tinggi menjulang. Tapi imajinasiku berkata bahwa aku diijinkan untuk melihatnya sebagai kotak yang berisi rindu. Minimal, aku berharap kotak itu dapat membawaku untuk 3 tahun kebelakang. Pun jika kotak itu tak mampu, justru aku ingin berada saat di bangku SD, agar rindu tahu bahwa dia membawa lelah pada diriku. Kali ini aku tidak bisa bersaji dengan kopi, kenapa? ah retoris. Terlalu retoris untuk dijelaskan. Apalagi dengan sebatang rokok, sudah cukup dua infus berinfiltrsi dengan kulit ku kala di panti rapih itu gegara rindu datang di malam dan rokok.

Namun aku ingin bertanya pada kotakyang membuatku diijinkan untuk berimajinasi tentang rindu, sebegitu cantik kah istilah - istilah mu sehingga hujan berasosiasi dengan mu? atau aku hanya heran, justru saat ini kamu begitu cantik?lalu kemana saja diriku sejak berteman denganmu sedari SD? Sekolah Dasar yang mengajarkan ku akan rindu. Rindu...rindu...rin..........du...... Sial!

Minggu, 01 Juni 2014

Retorika Si Bontot


Memutuskan untuk membicarakan mengenai retorika berarti akan sedikit banyak bersentuhan dengan kuasa pemahaman klasik yang di miliki Aristoteles. Begitu klasik dan menarik, begitu menggebu – gebu bagai kaum cendekiawan yang di arak keliling desa ketika pulang dengan bersandang “Cumlaude”. Retorika tentang bahasa, tata cara berbicara, penyampaian maksud, dan mengapa orang dapat memiliki sistem bawah sadar yang baik untuk menyusun sebuah kalimat untuk di utarakan. Begitu Einstein menemukan kekhawatiran tentang teknologi akan membuat orang terhilat idiot, disitu pula retorika mulai beralih mejadi modernisme dengan berbagai macam kepunahan. Benar saja jika kepunahan itu mulai muncul perlahan karena kedekatan antar sesama manusia semakin ter mediasi oleh benda berbentuk persegi panjang dengan nama Mobile Phone. Namun bukan disitu intisarinya, itu hanya penekanan semata terhadap maksud retorika secara dangkal (mungkin saja), sebenarnya disini akan berbicara bahwa si Bontot (anak terakhir dalam sebutan Jawa) mencoba bermain dengan retorika.
***
Kala itu sekitar peralihan bintang Pisces menuju Aries, malam hari dengan di penuhi sesak karpet lipat yang berseragam kuning, Dirga tiba di rumah romantis Djoko dan Lily dengan keadaan yang terhuyung – huyung karena sorenya melakukan lari bundaran GSP dengan 6 kali putaran. Lelah, terjelembab pada pergantian suhu udara Yogyakarta – Banjarnegara membuat Dirga berekspektasi bahwa membaringkan badan adalah hal yang paling logis kala itu. Apa daya sebagai seorang anak Bontot yang notabene selalu dianggap paling “hijau” diantara saudara – saudari kandungnya, ekspektasinya harus tertunda sementara demi melayani khalayak yang sudah bergumam sedari tadi menanyakan kemana saja Dirga selama ini. Prosesnya di Yogyakarta membuat dirinya seolah tak berdaya, sudah terhuyung – huyung, dicerca banyak pertanyaan pula. Sungguh malang nasib anak Bontot itu. Tak perlu menjawab lama, Dirga membawa nampan berisi teh dan kopi panas sebagai bentuk pendekatan dan untuk memulai negosiasi secara manusiawi terhadap masyarakat beribu kepentingan tersebut.
***
Pendekatan menggunakan nampan berisi cangkir – cangkir kopi dan teh ternyata tidak terlalu berhasil. Pertanyaan demi pertanyaan mulai bermunculan bagai pelatuk MP7 yang tertarik dari tempatnya bersandar. Berhamburan tak beraturan, bahkan untuk menyusun satu persatu pertanyaan yang tercecer pun sulit karena setiap pecahan pertanyaan itu selalu tersambung nan erat. Bodoh, iya bodoh. Sebodoh tupai lompat berkali – kali karena akan jatuh juga pada akhirnya. Belajar bahasa Inggris merupakan sesuatu yang sangat bodoh dalam forum tersebut. Mengapa tidak belajar bahasa asing yang lain saja? China misalnya, Dirga bisa mendapatkan kekayaan melimpah dengan bahasa itu. Begitu meyakinkan bahwa belajar bahasa Inggris di usianya yang menginjak seperempat abad adalah hal yang bodoh. Ternyata hipotesis awal Dirga terhadap sikap penanya adalah kekayaan yang berdasarkan kesetaraan kekuasaan. Sesederhana itu, memiliki uang yang cukup untuk menggapai keinginan yang menguasai naluri dan nafsu hati. Oh tunggu dulu, Dirga hampir lupa, hampir saja melupakan alasan mengapa karpet berwarna kuning. Warna tersebut adalah sebagai simbol kekuasaan sedari Orde baru. Sangat kental dengan nuansa patuh terhadap atasan. Begitulah sekiranya posisi Dirga sebagai anak bontot. Ketika menggunakan belajar bahasa Inggris sebagai proses ternyata hanya menjadi lelucon hierarki tua karena tidak menghasilkan pendapatan yang cukup, cukup untuk mengumpulkan suara aspirasi.
***
Posisi duduk bersila membuat Dirga semakin tidak nyaman. Kakinya terlilit diantara kerasnya kayu mahoni yang sudah dipermak dengan pernis. Pantatnya bergerak macam cacing kepanasan, kupingnya mendengung bagai mendengar suara klakson yang blingsatan di Jakarta, matanya berair bagaikan embun pagi yang lelah mengudara di malam hari, mulutnya berdenyut seperti tertimpa ciuman mesra(malang bagi kalian yang belum pernah merasakannya karena sulit untuk membayangkan), tanganya mencoba untuk menggapai pemahaman yang serupa dengan khayalak yang duduk di karpet kuning. Mencoba memahami alasan orang di sekitarnya dan mulai menyesuaikan kemampuan berfikir orang di depannya yang sedang berbicara lantang dan tak mau di potong. Kenapa? Dia berkuasa dengan sekumpulan domba dan sapi yang siap di jual. Siap di jual untuk melengkapi biaya mahar calon wakil rakyat yang terhormat. Calon wakil rakyat yang terhormat pun mulai mengutarakan rasa risauannya selama ini. Dimana Dirga? Apa yang Dirga lakukan? Bahasa Inggris macam apa sampai membuat dirinya acuh terhadap proses ku? Mungkin kurang lebih seperti itu perasaan khalayak di sekitar Dirga.
Sekali lagi hanya karena bontot, tuntutan hormat terhadap sulung harus di berikan. Kekeluargaan mulai diukur dari seberapa banyak kontribusi terhadap sebuah proses menuju kekuasaan. Anehnya, proses kekeluargaan secara konotasi selama ini hanya menjadi kamuflase pagi dan pendinginan di malam hari. Bontot tak berdaya dalam majemuk langka, susunan tangan yang sedari tadi dijelaskan kalah dengan mahalnya harga sapi dan domba. Penjelasan tentang belajar bahasa Inggris di tentang habis – habisan. Ucapan mulut yang coba di utarakan, bahkan di timurkan, di selatankan, dan baratkan sekaligus tak mampu menahan daya gelombang semangat khalayak di karpet kuning.

Bontot berarti ekor, patuh terhadap kepala yang berisi otak untuk menentukan arah. Bontot berarti tak bisa menjelaskan keinginan kepala karena sekalinya terputus hanya akan hilang. Seperti ekor cicak, akan tumbuh ekor – ekor yang lain setelahnya. Bontot berarti paling muda, posisi yang sangat enak untuk di jadikan pesuruh kakak – kakaknya. Namun bontot berbahaya, karena bontot menyerap segala ketidakadilan yang dilakukan oleh kakak – kakaknya. Melihat dari sisi yang lebih humanis. Bontot mencoba beretorika setelah itu.

Sabtu, 31 Mei 2014

Menjadi Pagi



Sial, ternyata Dirga menikmati rasa sakit yang sangat melilit pada uluh hati. Setiap detak jantung dan detik waktu menjadi nikmat anomali nikotin. Sisi – sisi  tulang rusuk perlahan bergetar menggerakan tubuh untuk gusar agar terbangun dari kasur yang sangat tipis. Begitu tipis karena semua perhatiannya masuk kedalam kotak suara kakak pertama. Begitu tipis sehingga kemampuan untuk bermimpi bagi anak ketiga begitu sulit, begitu terkekang oleh udara yang menghimpit di sela – sela tegel kamar berdinding tiga kali empat. Tak ada waktu untuk berdiskusi dengan udara malam, Dirga mulai menjejakan kakinya pada tumpukan sepatu kumal yang tertumpuk rapih. Tumpukan sepatu yang harganya menjulang tinggi karena di kasih manis tanpa asam oleh orang berbisnis yang hanya menjadi pemanis di mulut.
***
Ujarnya akan menghentakan kaki pada dinding dini hari yang malang, namun kuasa diri tak tahan untuk menyangga berat badan yang semakin membuncit untuk ukuran jiwa tersiksa. Sudah tersiksa, buncit pula. Dirga memutuskan untuk menghentakan kaki pada skala seperlima kuda besi yang malang melintang sejauh 1579 km. Oh, tunggu dulu, niatnya tidak untuk menyamakan jarak yang sudah ditempuh, niat Dirga kala itu hanya untuk menghilangkan rasa gusar yang mengganggu kenikmatan bermimpinya.
***
Termenung pada jalan kosong nan melintang ara, bercak – bercak sisa dunia malam bagi pemuda pemudi sepertiga malam terlihat pada deretan pedagang pagi. Gigi demi gigi mulai berganti, harapan mulai menyelundupi kalbu, satu per satu keinginan terbuka untuk menuju daerah timur. Timur ring road utara tercetus ketika mendengar bisikan penyiar ruang hampa. Maju berjajar pada lintasan yang sudah berstandar APILL. Hiruk pikuk mulai menyepi dan Dirga benar – benar sendiri ketika memasuki plang Candi Ratu Boko dan Candi Ijo. Petugas malang melintang untuk melarang laju keinganan menikmati pagi di Candi Ratu Boko. Dulu, mereka hanya melihat Candi sebagai rangkaian seni, kini mereka melihat daya tarik magis dan mengharuskan menggunakan “sarung” Candi. Kemudian Dirga terdiam pada standar kuda besi yang telah di hentikan, bernegosiasi dengan diri sendiri untuk memutuskan kemanakah akan mengalihkan sakit hati karena mimpi yang begitu tipis dan mulai terkikis oleh candu kepentingan Historis yang Hierarki.
***
Sudahlah, Dirga tak mau lagi berekspetasi untuk menajdi pengganjal rongga lubang anak ketiga. Dirga mulai berfikir bahwa Candi Ijo di seberang arah dan bertepatan dengan hari bahagia Siti dan Wahyu di daerah itu. Lurus terus untuk mencapai puncak manis yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Terlihat sosok Candi menyendiri yang berdekatan dengan kabut lembut. Cahaya dari ufuk timur menghapus sakit hati dan Dirga tidak berfikir sementara untuk menikmati pagi. Menjadi pagi sebagai alternatif ciptaan Tuhan yang sejajar, sempurna, dan di beri nikmat yang sama. Dirga, candi, alam, kabut, hijau, dan Jalan yang panjang untuk pagi ini.  

Rabu, 09 Oktober 2013

Sang Sepeda

Beribu kata dan menghujam pikiran merupakan sebuah pola yang sepertinya menjelma menjadi bahasa. Bahasa yang memiliki literatur untuk mengatur agar mudah mengulur alur yang masih simpang siur. Tak jelas kemana arahnya dan tak tahu apa maksudnya. Terkadang bermaksud memuji namun tertangkap basah menghina, terkadang bermaksud menghina namun sama sekali tidak tertindas oleh susunan kalimatnya. Semua seperti berbahasa kalbu yang mana harus lebih bisa dekat dengan komunikatornya agar mengerti maksudnya. Maksud yang mungkin hanya diinginkan secara tersirat dalam sebuah surat. Kali ini suratnya tidak perlu menunggu lama, tidak perlu lagi menunggu Sang Sepeda memasukan surat seperti sepuluh tahun silam dengan perangko yang selalu di koleksi oleh anak - anak oleh jaman itu.

Sang merupakan sebutan yang seolah sangat anugrah bagi yang di sebutnya. Sang seolah - olah juga merasuk pada sukma yang bernyawa, hampir tidak diperbolehkan untuk tidak yang bernyawa. Begitulah sekiranya Sang di perbolehkan setelah muncul dalam tatanan bahasa. Aku mencoba berfikir bahwa Sang adalah seperti The pada tata bahasa Inggris. Namun banyak sekali yang memperdebatkan itu. Ah, bagiku ketika mendengar dan melihat kata Sang aku hanya akan teringat pada Sang Kodok karena saat aku akan pulang sekolah dimasa berseragam kecil aku selalu menyanyikan itu. Aneh rasanya jika Sang selalu di perdebatkan dengan The untuk bahasa yang universal. Aku tidak akan peduli itu, aku hanya peduli bagaimana cara guru aku memberitahu padaku bahwa ketika aku menggunakan kata Sang maka aku akan menghormati hal itu. Baiklah pak guru yang sekarang sudah beristirahat dengan tenang, Sang yang telah kamu jamah di pikiranku akan tumbuh pada proses Sang yang berbeda dari Sang yang lain. Kali ini aku berfikir tentang roda dua yang sepertinya tidak pernah jatuh ketika kita jerujinya mulai berputar, rantainya mulai bergerak dari depan dan kembali lagi pada lingkaran besar dan kecil serta tajam. Iya, aku berfikir tentang Sang Sepeda, Sang yang memiliki seribu nyawa.

Sebelum aku memulai berfikir tentang Sang Sepeda, aku mencoba berdamai dengan apa yang ada di dalam roda dua yang selalu berputar. Aku mencoba memperhatikannya. Aku mencoba melihat dari posisi duduk ku saat aku mengayuhnya, lalu aku mencoba melihat juga saat orang lain ikut mengayuh. Mataku menangkap bahwa aku di kelabuhi sihir yang nyata bahwa roda dua itu mampu berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Aku masih menganggap ini sihir karena saat pertama kali aku belajar untuk mengayuhkan ke dua roda tersebut, aku selalu di bantu oleh dua roda lagi yang lebih kecil. Aku masih tidak percaya mengapa hanya dua roda dapat berpindah pindah tempat. Hari demi hari pun terlewati dengan bantuan dua roda kecil di sampingnya dan kini menuju pada kondisi yang nyata bahwa aku harus belajar hanya dengan dua roda saja, tanpa bantuan si kecil. Akhirnya aku menyadari bahwa dua roda kecil itu seperti malaikat bagiku, dia membantu ku saat aku di mantra oleh kekagumanku akan roda dua yang bisa berpindah - pindah tempat. Malaikat yang selalu membantu aku bahwa aku harus percaya akan keajaiban alam yang setiap hari akan selalu aku temukan pada hari - hari berikutnya setelah ini. Dan aku harus siap menghadapi sihir yang lain, sihir yang akan semakin tidak masuk akal jika aku melihatnya sendirian karena aku akan berdamai dengan hal itu.

Setelah aku berdamai dengan pikiran itu, aku mulai lagi dengan kayuhan demi kayuh. Setiap hari aku kayuh, dari rumah menuju sekolah, dari sekolah menuju tempatku mengaji, dan dari tempatku mengaji aku kembali lagi pada rumahku. Begitu gembira setelah aku berdamai dengan pikiran itu. Pikiran yang dianugrahkan untuk ku agar aku mampu bertahan dari sihir - sihir lain setelah ini. Aku juga merasa bahwa dengan sepeda ini aku merasa lebih cepat dan kuat, aku belajar dari hal itu. Hal yang selalu membawaku pada tempat dimana aku harus mengisi otak yang katanya tak akan pernah mampu di kuasai oleh manusia sepenuhnya. Aku sempat tidak percaya dengan mitos bahwa Einstein hanya menggunakan sepersekian persen otaknya dari jumlah 100% yang dimiliki. Lalu dimana puluhan persen yang lain?sebegitukah otak itu diciptakan? apakah adil jika di ciptakan namun tak dapat di gunakan? saat itu pula aku mulai tersihir lagi dengan ungkapan - ungkapan yang ada di dalam kelas.

Ungkapan - ungkapan yang semakin misterius untuk ku ketahui itu pun selalu bermunculan. Cara munculnya pun bak sim salabim aba kadabra, tiba begitu saja. Seperti halnya salah satu temanku yang sedari dulu hanya diam ketika melihatku yang seolah berdiskusi dengan buku. Mungkin temanku itu penasaran dengan raut mukaku yang semakin suram ketika membaca satu persatu maksud dari penjelasan setiap buku tersebut. Ia tiba dihadapanku dengan senyum manis yang lebar. Tetiba aku membayangkan sosok putri yang selalu di sebut dalam kisah Sang Kodok yang selalu di nyanyikan di kelas sebelum pulang. Setelah aku menatap cukup lama dan dia tersenyum dihadapanku, ia mulai dengan menyapa aku. Sungguh suara yang tak pernah aku duga sebelumnya. Aku yakin saat itu pula bahwa tak ada kain meskipun itu kain sutra untuk di umpamakan lembut dan halus suaranya.

Aku sadar bahwa dia adalah satu - satunya gadis yang mengayuh sepeda ketika berangkat ke sekolah. Gadis yang selalu menggunakan keranjang sepedanya sebagai tempat tas. Itu berbeda dengan ku karena sepeda yang aku gunakan tidak ada ranjangnya. Ketika aku tanya mengapa ia lebih suka menggunakan keranjangnya, ia hanya menjawab:
"aku begitu menyukai keranjang ini karena ibu dan ayahku yang memasang keranjang ini".
Ah..aku berfikir pula bahwa dia adalah anak kesayangan orang tuanya. Tapi biarlah, itu menjadi urusan dia karena dia yang menikmatinya. Lalu dia tanya pula kepadaku:
"kenapa setiap kamu membaca buku teori kamu selalu suram? ada yang aneh?"
Sontak aku seperti menjilat ludahku sendiri, aku paham dengan apa yang dia maksud. Dia jelas menanyakan kepadaku juga bahwa itu adalah kebiasaanku. Aku menyimpulkan bahwa apa yang aku tanyakan dan apa yang dia tanyakan sebenarnya terjadi pada satu pola, itu hanya basa - basi belaka agar kita lebih dekat. Iya, basa - basi. Basa - basi pun ternyata sudah muncul sedari aku kecil. Entah itu datangnya dari mana dan bagaimana cara aku mempelajarinya. Yang jelas apa yang tadi aku dan gadis itu tanyakan hanyalah basa - basi. 

Tak biasanya sepulang sekolah dia mengajak aku untuk mengayuh sepeda bersama. Aku pikir ini masih pada tahap basa - basi juga. Namun sepertinya dia begitu serius untuk mengajakku singgah di rumahnya. Tak jauh dari jangkauan kayuhanku ternyata aku dan dia sudah sampai dirumahnya. Rumah yang begitu sederhana namun tampak asri karena ada mahkota yang tertanam berwarna - warni. Mahkota bumi yang sering di hinggapi oleh lebah dan mungkin sebagian oleh kumbang di taman. Disamping halaman yang asri ternyata ada sekotak ruang yang di penuhi besi dan rangkaian sepeda. Ternyata orang tua gadis itu adalah kolektor sepeda dan sangat menyukai sepeda. Tidak menunggu lama, gadis itu mengajakku untuk berkunjung ke ruangan tersebut. Ruangan yang ukurannya kurang lebih hanya 5x6 meter persegi ini menyimpan begitu banyak jenis sepeda.

Begitu banyak sepeda yang mahal harganya, namun aku heran mengapa si gadis itu tetap memilih sepeda sederhana yang berkeranjang, bukan sepeda sport yang menawan. Aku masih tetap bingung walaupun dia sudah menjawabnya tadi. Ketika aku sedang melihat sepeda yang tertata rapi itu, ada pria berparas tampan yang mendekat kepadaku dan mengajakku untuk bersalaman. Dia ternyata menanyakan namaku dan memperkenalkan dirinya adalah ayah dari gadis itu. Setelah pria itu berkenalan denganku, gadis tadi pun mendekatiku dan mengatakan:
"ayahku mengumpulkan sepeda - sepeda ini semenjak dia belajar latihan sepeda waktu kecil lo" sembari dia tesenyum kecil dan mengurai rambutnya yang lurus. Ucapan Gadis itu di respon senyum simbul lalu dia dicium dibagian kening oleh ayahnya.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Beberapa hari kemudian setelah aku semakin dekat dengan si gadis, aku makin penasaran dengan apa yang ada di sekitarnya. Mulai dari buku yang dipilih hingga kenapa dia tetap memilih sepeda sederhananya itu. Acap kali aku bertanya tentang kebiasaan dia setelah pulang sekolah, namun dia selalu menjawab dengan cara yang sangat dingin. Seolah dia sedang menyusun rencana untuk menunjukan sesuatu yang berbeda kepada dunia. Ya, dunia yang semakin banyak irama dan konteks yang semakin menjelma menjadi konten - konten kepentingan pribadi. Pada konten sepeda itu pula aku masih berfikir tentang konteks apa yang aku pikirkan ketika melihat sepeda beroda satu.

Rasa penasaran ini semakin tak terbendung. Aku mencoba untuk mengikuti dia setelah pulang sekolah. Berjelaga pada kayuhan yang tak bersuara dan rasa berpaling yang luar biasa agar aku tetap terjaga dari pandangan dia. Pandangan yang tak boleh lepas sedikitpun karena rasa ini semakin membesar. Lalu di sudut gang,aku mencoba berhenti dan memperhatikan apa yang dia lakukan. Ternyata dia menukar sepedanya dengan yang roda satu. Roda yang menjadi jelmaan ketidakseimbangan bagiku saat pertama kali aku melihat di garasi sepedanya.

Tangan kanan membelai kursi sepeda, tangan kiri mengepal pada rangkaian yang kecil dan kedua kakinya berjaga - jaga agar dia tidak jatuh. Perlahan dia gerakan kedua kakinya, tidak di pungkiri juga kaki kanan selalu mengawali dia untuk berada di pedal sepeda itu. Anehnya, apa itu tetap akan di sebut sebagai sepeda jika hanya punya satu roda?dimana letak keseimbangannya?bukankah seimbang itu jika dilihat dari dua sisi? seperti itulkah tanyaku sesaat ketika melihat si gadis berirama dengan sepeda roda satunya. 

Gadis juga mencoba melanglang buana dengan sepeda roda satunya. Sepertinya ia sudah terhasut oleh kemandiriannya untuk bersepeda dengan roda satu. Aku pun kembali mengikutinya secara perlahan, benar - benar perlahan. Aku tidak ingin keberadaankau menjadi momok buat dia. Aku paham bahwa dia tidak ingin banyak orang yang tahu karena dia memilih jalur yang tidak biasa di lewati oleh banyak orang. Melewati jalan pinggir sungai irigasi tidaklah mudah karena kemungkinan dia bisa bertemu dengan segerombol hewan yang di cap sebagai hewan pemalam sedunia. Terkadang mungkin dia juga akan bertemu hewan paling disiplin sedunia ketika begitu banyak pasukan dan tetap bisa berbaris. Aku masih menduga bahwa ini semua pasti mengandung sebuah cerita. Sekali lagi, dia menggunakan sepeda roda satu.

Akhirnya pada satu tempat dimana dia berkelana, dia berhenti  mengayuhkan pedal roda satunya. Aku masih penasaran dengna cara dia "men-standarkan" sepedanya. Ternyata si gadis hanya menggunakan sisi batu untuk melakukannya sehingga sepeda roda satu tetap berjaga - jaga. Setelahnya dia jalan perlahan kedepan, lalu muncul sosok wanita yang begitu cantik. Aku berfikir bahwa dia akan berlatih sesuatu yang sangat rahasia di tempat seperti ini. Namun dari kejauhan pula,wanita itu ternyata menuntun sepeda roda satu juga. Sama persis dengan apa yang di tunggangi oleh si gadis. Hingga akhirnya mereka berdua terlihat seperti sedang beradu kesenangan menggunakan sepeda roda satunya.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kesekian hari setelah aku melihat hal itu, aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya kepada si gadis saat berada di dalam kelas. Awalnya aku agak ragu karena aku takut mengganggu apa yang ingin dia rahasiakan atau lebih tepatnya aku sangat takut kalau aku di anggap sebagai penguntit. Tapi biarlah, biarlah karena aku begitu penasaran mengapa dia bisa sebegitu jauh mengayuhkan pedal dengan roda satunya. Namun saat aku mencoba mendekat, dia hanya berkata
"kemarin ibu ku melihat kamu ada di sebrang arah, kenapa kau tak sempatkan untuk memanggilku?" kata si gadis.
"oh..mungkin aku terlalu terburu buru, jadi aku ga sempat menyapamu" jawabku.
"oh,jadi makna dari terburu-buru saat ini sudah berganti ya. Yang tadinya hanya lewat saja menjadi memperhatikan sepanjang ada?" jawab dia.
aku tak tahu harus menjawab apa dan mencoba untuk memberikan senyum terbaikku agar aku tak begitu malu.
"sudahlah, apa yang ingin kamu tanyakan sudah aku jawab pada tugas puisi nanti. Akan ku pastikan jika aku menyusunnya dengan benar agar kamu tahu jawabannya dengan benar" jawab dia sembari tersenyum lebar dan mengedipkan satu matanya.
Perlahan aku mundur selangkah untuk meraih gagang kursiku. Duduklah aku agar aku lekas hilang dari rasa malu.

Beberapa menit kemudian guru Bahasa Indonesia masuk, dan mempersilahkan si Gadis untuk maju membacakan puisinya. Sepertinya kali ini dia begitu percaya diri tak seperti hari - hari biasanya. Namun ketika dia mulai membaca bagian judul "Sang Sepeda" Aku tersontak diam, aku mencoba melihat ke arah buku yang yang letaknya tidak begitu jauh dari dagu ku saat aku duduk. Aku dengar apa yang dia ucapkan sama persis dengan apa yang aku tulis di buku Bahasa Indonesia ku, Sang Sepeda. Kala itu aku memang selalu merenung dengan kata - kata sang karena begitu banyak perdebatan diantaranya. Aku benar - benar tak menyangka jika gadis itu ternyata juga memperhatikanku, bahkan hingga apa yang aku tulis. Lalu mataku kembali tertuju pada gadis itu dan memperhatikan apa yang dia ucapkan.

                             Sang Sepeda

Jikalau kau masih muram, kau tak pernah paham
Paham tentang kalimat - kalimat yang menantang
Cobalah kau untuk duduk secara tegak
Saat kau melihat coretanmu sendiri

Aku akan datang seperti peri
Peri yang memiliki tongkat sakti
Bukan untuk merubah, namun untuk mengubah
Bukan hanya sekedar berlari, namun berbagi

Jikalau engkau masih bingung mengapa aku memilih sepeda itu
Aku akan tetap menjawab bahwa keranjang menjadi faktorku
Tak usahlah kau pedih dalam memahami sebuah kata
Kata yang akan membuat benda itu memiliki jiwa

Meskipun hanya satu yang berputar
Itu tetap bisa berirama
Bahkan tetap bisa membawaku keliling dunia
Meskipun awalnya aku harus menghadapi pasukan termalas di dunia

Satu yang berputar dan satu yang berkeranjang
Aku sudah berfikir bahwa itu sangat lengkap
Aku sudah di beri tumpangan yang jauh dari kata sempurna
Aku hanya menyerahkan asa ku saja

Keduanya berhati lembut
Meskipun harus bergantian memakainya
yang satu selalu mencium keningku
yang satu selalu bermain denganku

Caranya berbeda, jalannya berbeda
Namun keduanya sama-sama menyukai roda
Ku anggap itu adalah suatu kata yang sempurna
Jika aku tuliskan dengan sepeda, Sang Sepeda

Setelah gadis itu membacakan puisinya ia menuju kearahku. Seolah suara gemuruh tepuk tangan di dalam kelas menjadi back sound ketika menghampiriku. Dengan senyum yang lebih riang dan terkesan lebih mantap ia duduk disebelahku dan berbicara:

"awalnya aku murung ketika aku harus bergantian menggunakan sepeda itu. Tapi keadaan membuat aku harus belajar tentang makna kesempurnaan. Sempurna itu ketika kita bisa menjadikan apa yang di sekitar kita memiliki jiwa. Seperti yang aku alami, meskipun aku tidak bisa lagi menikmati kasih sayang secara bersamaan oleh orang tuaku, aku tetap bisa merasakan kesempurnaan apa yang selalu mereka kasih. Cukup keranjang yang ada di depan sepedaku adalah benda nyata bahwa mereka berdua selalu menampungku di hatinya. Hanya saja kini mereka harus berpisah, sehingga aku harus menjadi kuat seperti sepeda roda satu ku itu. Secara besar terlihat sendiri, namun sebenarnya roda satu itu tetap memiliki dua pedal yang beriringan agar aku tetap bisa mengayuh. Dan aku menyadari bahwa setiap iringan pedal itu tidak berada pada posisi yang sama, Itulah orang tuaku, itulah Sang Sepeda bagiku".

Entah mengapa apa yang gadis itu ucapkan membuatku benar - benar terdiam. Selama ini aku hanya merenungkan tentang kata Sang sebagai bentuk kata bantu agar benda hidup dapat lebih berkesan. Tapi nyatanya si gadis justru memberikanku gambar yang berbeda. Dia menggunakan Sang untuk menghidupkan benda yang mengingatkan akan kesempurnaan kasih sayang kedua orang tuanya meskipun telah berpisah. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa Sang - Sang yang lain akan dia munculkan kembali.