Minggu, 22 Mei 2011
Terimakasih Kawan
( Saint Loco - My Friends )
Akhirnya Sholeh mulai memejamkan mata setelah memikirkan apa yang seharusnya dia lakukan. Sholeh hanya melakukan apa yang dia bisa lakukan. Untuk berbagai kesibikan yang dia pilih, mungkin secara fisik dia akan menanggung banyak aktifitas. Ternyata yang lebih berat adalah alasan emosional. Kegelisahan itu muncul ketika Sholeh tidak bisa melakukan tugas - tugasnya tentang Banjarnegara, Sholeh mulai berfikir hal pertama yang akan ia lakukan untuk menceritakan Banjarnegara di depan temannya. Sholeh telah menempelkan bintang berwarna hijau di dinding kamarnya, dan ternyata bintang tersebut memiliki makna tersendiri. Makna dibalik kesungguhan pria yang memiliki perasaan ( tidak selau wanita yang memiliki perasaan ) karena Sholeh sangat segan dengan sahabat - sahabatnya yang mampu menceritakan tentang Banjarnegara. Esok pagi, Sholeh akan menceritakan satu hal tentang Banjarnegara berdasarkan apa yang sahabat Sholeh ceritakan di depan khayalak umum.
Sabtu, 21 Mei 2011
Menutup Untuk Malam ini
Jumat, 20 Mei 2011
Begitu Akan lebih Terbuka
Gently in the night of one fine day
On my way
Looking for a moment with my dear
Full moon waves
Slowly on the surface of the lake
You are there
Smiling in my arms for all those years
What a fool!
I don't know about tomorrow
What it's like to be
Ah~
I was sure
'Couldn't let myself to go
Even though I feel
The end
[ Lyrics from: http://www.lyricsmode.com/lyrics/b/beat_crusaders/moon_on_the_water.html ]
Oh my fair...
Floating like a bird that's in her wings
You are there
Smiling in my arms for all those years
Selamat Jalan "Pangeran" ( Pengganti Hari Rabu tanggal 18 Mei 2011 )

Untuk Sang Hati Hidupku
Leburan karya cinta mereka
Perdaya rasa ingin bermakna
Syahdunya adzan dalam telingaku
Menjadikan suaranya keras sayu
Sujud dan tangisku dilimpahkannya
Dibawa menuntun sendi jari raga
Diantara khusuk dua sujud
Gagah mengacungkan telunjuk wujud
Lencana tertempel pada lengan kanan
Asuh bibit keatas beriman
Sebelum kabisatku merana
Sedari pelukan mengatasnamakan cinta
Wahai Sang Hati Hidupku
Aku menagis membaca namamu
Terbang bersama seriuk insan
Menjauh didalam kekeringan
Sekarang mataku mega mendung
Mencoretkan layar tuk merenung
Hanya satu pintaku saat memandang langit biru
Dalam dekapan nyiur melambai hangatmu
Gelegar saruk“labaikallahhumalabaik”
Melangkah mencari sangu
Wahai Sang Hati Hidupku
Ikhlas lah menyaring keringat lugu
Aku tulisankan coretan untuk sang "Pangeran" yang telah kembali ke jalan Nya. Semoga pangeran yang gagah perkasa ini mendapatkan tempat yang nyaman dan indah di sisi Nya. Selamat Jalan Mbah Kakung, selamat jalan wahai Pangeran kami yang sesungguhnya. Keberanian dan Kegagahanmu selalu kamu kenang untuk segala keputusan kami, bahwa kami sangat beruntung memiliki Kakek seperti Engkau. Semoga perjuanganmu dikala berteriak " MERDEKA!!!!!!" selalu mendapatkan balasan dari Allah SWT. Selamat Jalan, Komandan!!!!!
Selasa, 17 Mei 2011
Yang Pertama
Yang Pertama
Permana betampang perlente
Selalu merapat sejajar yang betele-tele
Orasi keras mengapit tongkat pinggul
Topi rantang sudah jadul
Memekik nan pecak perlahan
Memaksa untuk bertahan
Tapi neneknya merengek ketakutan
Sampai mati bebeknya tak akan mereka keluarkan
Siul-siul malah merumbai di atas atap
Durhaka sekali anak yang gelap
Bohongi umur dengan nafsu
Sementara telinga malaikat tak dengar namanya berjalu
Rasanya bidadari tidak tidur
Melambai buah kasih di depan dhuhur
Dibelakangnya jeruji api melarikan diri
Dari Jahanam ke bumi pertiwi
Buah-buahan diambilnya
Tapi yang busuk memanggilnya
Itulah asap
Pengap-hingga selamanya mata terlelap-
Lalu ayahnya berangkat naik pangkat
Tapi fosil anaknya masih susah tuk diangkat
Makin panas saja Zaenudin M.Z. bermimbar
Hingga menjalar-panas yang lebar
Dahulu, para penyair udara mendahului
Otaknya ditinggal, gonggonganya disyahdui
Itulah pertunjukan permana yang purnama
Letak mediokritasnya jadi tinggal nama
Sebuah lamunan Sholeh dalam kebingungan dia antara prioritas "menjemput pagi dan "mengantar sore". Dimana Sholeh hanya memandang langit dan buku - buku diatas balkon kosannya. Dia masih begitu memikirkan, bagaimana cara dia menyampaikan kepada temannay bahwa Banjarnegara bukan sebuah kota kecil yang lemah. Prosa Sholeh hanya dibuat berdasarkan lamunan yang menatap awan, sehingga dia mampu menciptakan sedikit lamunan tulisan tentang permana dan purnama.