Minggu, 22 Mei 2011

Terimakasih Kawan

Smoking weed everytime that’s the way of us
Walk of my problem never wanna discus
In the state of the city try to living free
We use to trippin in a party feeling ecstasy
I live my urban life the way we wanna be
And for the few who knews we gonna ride with u
St.loco represented for your homies in town
Here we go now flowing in the hood
Friends
Then I want to a religion but I got so frost
They call me outcast to society so I’ve got trust
I’m riding in this world that it seems so lost
Solution to confution tell me who I can’t trust
I want to live my life Wright try to living inside
But in the middle of the night I see your light shines bright
You got a soul power mystery
Saves my life’s year sinner misery
For the fate..
For the life..
For the love..
For the trust..
Saved by the blood with believing
You gotta pray to make the day
Pray to make the day
Your job is in my way
Hi wo ooo 2x
I know I’m dirty..
I know I’m filthy..
But I know u save me
And I know u save me

( Saint Loco - My Friends )

Akhirnya Sholeh mulai memejamkan mata setelah memikirkan apa yang seharusnya dia lakukan. Sholeh hanya melakukan apa yang dia bisa lakukan. Untuk berbagai kesibikan yang dia pilih, mungkin secara fisik dia akan menanggung banyak aktifitas. Ternyata yang lebih berat adalah alasan emosional. Kegelisahan itu muncul ketika Sholeh tidak bisa melakukan tugas - tugasnya tentang Banjarnegara, Sholeh mulai berfikir hal pertama yang akan ia lakukan untuk menceritakan Banjarnegara di depan temannya. Sholeh telah menempelkan bintang berwarna hijau di dinding kamarnya, dan ternyata bintang tersebut memiliki makna tersendiri. Makna dibalik kesungguhan pria yang memiliki perasaan ( tidak selau wanita yang memiliki perasaan ) karena Sholeh sangat segan dengan sahabat - sahabatnya yang mampu menceritakan tentang Banjarnegara. Esok pagi, Sholeh akan menceritakan satu hal tentang Banjarnegara berdasarkan apa yang sahabat Sholeh ceritakan di depan khayalak umum.

Sabtu, 21 Mei 2011

Menutup Untuk Malam ini

Terpaksa saya tidurkan terlebih dahulu
Terpaksa saya letakkan terlebih dahulu
Terpaksa saya lelahkan terlebih dahulu
Dan terpaksa saya indahkan terlebih dahulu

Dahulu bukan karena inang yang terpaksa
Dahulu bukan karena rahang yang dipasang secara paksa
Dahulu bukan karena gigi ini bisa diberi jeruji besi
Dan dahulu bukan karena sesuatu yang terus ditangisi

Diam adalah sesuatu yang mencurigakan
Diam adalah sesuatu yang menggumpal
Diam adalah sesuatu yang menjadi pertanyaan
Maka jangan salahkan diam jika menjadi sebuah runyam kapal

Disini bukan berarti mati
Disini bukan berarti tak mengerti
Disini bukan berarti hilang
Dan disini bukan berarti malang


Sholeh mulai meninggalkan kursi yang biasa untuk melihat rembulan dan menghabiskan cengkeh berbalut kertas putih yang dibakar dengan sepercik gas yang diberi api. Hari dimana ia berada di kota Gudeg ini menjadi semakin dipertanyakan. Siapa yang menanyakannya? Sholeh ditanyakan oleh eksistensi dimana dia adalah sesosok pemudah yang "harusnya" memang bertanggung jawab untuk Banjarnegara. Katakan saja nama formalnya adalah "Duta Wisata". Ataukah itu yang membuat Sholeh begitu yakin akan Banjarnegara? ataukah karena Sholeh begitu yakin bahwa teman - teman Sholeh begitu hebat untuk membawa Banajrnegara? Sholeh.....oh Sholeh...... seperti judul film yang terus diriset oleh sutradara dan produsernya agar sesuai dengan target pasarnya. Sholeh bukan hanya target pasar, tapi Sholeh adalah senjata "Direct Selling" untuk Banjarnegara.

Jumat, 20 Mei 2011

Begitu Akan lebih Terbuka

( Lagu Ost. Beck : Moon on The Water )

Full moon sways
Gently in the night of one fine day
On my way
Looking for a moment with my dear

Full moon waves
Slowly on the surface of the lake
You are there
Smiling in my arms for all those years

What a fool!
I don't know about tomorrow
What it's like to be
Ah~

I was sure
'Couldn't let myself to go
Even though I feel
The end
[ Lyrics from: http://www.lyricsmode.com/lyrics/b/beat_crusaders/moon_on_the_water.html ]
Oh my fair...
Floating like a bird that's in her wings
You are there
Smiling in my arms for all those years

(Lagu ini sebagai Soundtrack dimana Sholeh sedang kebingungan dan menatap matahari yang tenggelam)

Masih di sore hari yang semakin mendung, Sholeh selalu berharap ada celah untuk memberikan syair atau bebrapa prosa agar lebih terbuka pikirannya. Seolah pikiran itu tertutup oleh awan. Ibarat fenomena alam ketika sore hari menjelang malam dimana rembulan ditutupi oleh awan gelap dan mengaburkan pandangan mata bahwa rembulan itu indah. Indah nya rembulan belum mampu ditangkap oleh Sholeh. Banjarnegara........ Banjarnegara........ kalimat apa yang akan dia sebutkan untuk melambangkan Banajrnegara di awal ceritanya. Buat Sholeh, jika ada sedikit kata - kata yang ambigu, maka makna Banjarnegara akan terbang seperti kicauan burung yang terbawa angin. Ketika sudah terbawa kicauan maka hilanglah sudah. Ah, mungkin hilang hanya perasaan Sholeh, bukan perasaan yang lain. Maka Sholeh melanjutkan menulis bait demi baitnya.

Selamat Jalan "Pangeran" ( Pengganti Hari Rabu tanggal 18 Mei 2011 )


Untuk Sang Hati Hidupku

Leburan karya cinta mereka

Perdaya rasa ingin bermakna

Syahdunya adzan dalam telingaku

Menjadikan suaranya keras sayu

Sujud dan tangisku dilimpahkannya

Dibawa menuntun sendi jari raga

Diantara khusuk dua sujud

Gagah mengacungkan telunjuk wujud

Lencana tertempel pada lengan kanan

Asuh bibit keatas beriman

Sebelum kabisatku merana

Sedari pelukan mengatasnamakan cinta

Wahai Sang Hati Hidupku

Aku menagis membaca namamu

Terbang bersama seriuk insan

Menjauh didalam kekeringan

Sekarang mataku mega mendung

Mencoretkan layar tuk merenung

Hanya satu pintaku saat memandang langit biru

Dalam dekapan nyiur melambai hangatmu

Gelegar saruk“labaikallahhumalabaik”

Melangkah mencari sangu

Wahai Sang Hati Hidupku

Ikhlas lah menyaring keringat lugu



Aku tulisankan coretan untuk sang "Pangeran" yang telah kembali ke jalan Nya. Semoga pangeran yang gagah perkasa ini mendapatkan tempat yang nyaman dan indah di sisi Nya. Selamat Jalan Mbah Kakung, selamat jalan wahai Pangeran kami yang sesungguhnya. Keberanian dan Kegagahanmu selalu kamu kenang untuk segala keputusan kami, bahwa kami sangat beruntung memiliki Kakek seperti Engkau. Semoga perjuanganmu dikala berteriak " MERDEKA!!!!!!" selalu mendapatkan balasan dari Allah SWT. Selamat Jalan, Komandan!!!!!

Selasa, 17 Mei 2011

Yang Pertama

Yang Pertama

Permana betampang perlente

Selalu merapat sejajar yang betele-tele

Orasi keras mengapit tongkat pinggul

Topi rantang sudah jadul

Memekik nan pecak perlahan

Memaksa untuk bertahan

Tapi neneknya merengek ketakutan

Sampai mati bebeknya tak akan mereka keluarkan

Siul-siul malah merumbai di atas atap

Durhaka sekali anak yang gelap

Bohongi umur dengan nafsu

Sementara telinga malaikat tak dengar namanya berjalu

Rasanya bidadari tidak tidur

Melambai buah kasih di depan dhuhur

Dibelakangnya jeruji api melarikan diri

Dari Jahanam ke bumi pertiwi

Buah-buahan diambilnya

Tapi yang busuk memanggilnya

Itulah asap

Pengap-hingga selamanya mata terlelap-

Lalu ayahnya berangkat naik pangkat

Tapi fosil anaknya masih susah tuk diangkat

Makin panas saja Zaenudin M.Z. bermimbar

Hingga menjalar-panas yang lebar

Dahulu, para penyair udara mendahului

Otaknya ditinggal, gonggonganya disyahdui

Itulah pertunjukan permana yang purnama

Letak mediokritasnya jadi tinggal nama


Sebuah lamunan Sholeh dalam kebingungan dia antara prioritas "menjemput pagi dan "mengantar sore". Dimana Sholeh hanya memandang langit dan buku - buku diatas balkon kosannya. Dia masih begitu memikirkan, bagaimana cara dia menyampaikan kepada temannay bahwa Banjarnegara bukan sebuah kota kecil yang lemah. Prosa Sholeh hanya dibuat berdasarkan lamunan yang menatap awan, sehingga dia mampu menciptakan sedikit lamunan tulisan tentang permana dan purnama.

Minggu, 15 Mei 2011

Ketika berpikil kecil adalah lemah

Hujan rintik membuat jantuk kota Gudeg semakin ramai dengan merapatnya mahluk ciptaan Tuhan untuk menikmati hidangan yang ada. Rintik yang selalu membuat adanya helai nafas semakin memanjang. Insight berarti sebuah kedalaman dalam perbandingan, perbandignan yang selalu memiliki dinding pembatas dimana ada satu yang di prioritas kan dan ada lainya yang menjadi hal - hal pendamping. Mengapa prioritas dan mengapa pendamping, itu karena ada dua sisi yang diperlukan dalam waktu yang berbeda. Seperti halnya Sholeh yang memiliki sisi waktu yang selalu dia namanakan " menjemput pagi" dan "mengantar sore". Buatnya, Banajrnegara selalu menjadi tempat dimana dia bisa melakukan dua prioritas waktu tersebut. Akan tetapi, ada satu hal yang man dia harus bersabar dan menunggu waktu yang tepat ketika akan menjawab pertanyaan tentang Banjarnegara bukanlah kota yang kecil. Kecil bermakna lumpuh, kecil bermakna tak berdaya, kecil bermaka hancur, dan kecil bermakna ingusan yang dipikirkan oleh Sholeh untuk menjawabnya sehingga ketika Sholeh menjemput pagi dan sholeh mengantarkan sore belum memiliki Insight apa yag akan dia pakai sebagai jawaban atas alasannya untuk menyebut Banjarnegara bukan kota yang kecil. Lalu, sekarang Sholeh sedang menapaki dimana letak "kecil" yang berkekuatan itu.

Sabtu, 14 Mei 2011

Mereka Tak Pernah Malu dengan Banjarnegara

Sholeh ( cerita sebelumnya ) memang sesosok orang yang pintar dan dia selalu memiliki motivasi tersendiri untuk melakukan tindakannya. Ya, katakanlah ketika dia pertama kali mengikuti kegiatan Ospek di Kampusnya. Karena Sholeh selalu memiliki motivasi tersendiri, maka ketika ada sesuatu kesempatan untuk melakukan pertunjukan, Sholeh tiba - tiba menunjukan tangan untuk maju kedepan. Sholeh ditanya oleh salah satu anak acara ospek " oke Sholeh, kamu mau menunjukan apa??" Sholeh menjawab " saya akan menunjukan orang - orang Banjarnegara kepada teman - teman" . Lalu anak acara kembali bertanya " dengan cara apa??" dan dengan sontak Sholeh menggerakan tubuhnya, Sholeh meliak liukan tubuhnya, dan Sholeh jungkir balik ( memeragakan Break Dance ) . Sontak saja seluruh peserta ospek berteriak kagum dan tepuk tangan.
Anak acara pun memberikan ucapan selamat. " Wow, ini kegiatan anak - anak Banjarnegara??" Sholeh menjawab dengan lantang " baru sebagian kecil dari aksi Street kami" tentu saja dengan senyuman lebar Sholeh. Setelah momen itu, Sholeh mendapat beberapa perhatian dari teman - teman satu angkatan karena keberaniannya menunjukan keahlian apa yang dia miliki. Ada pertanyaan dari seorang teman Sholeh, dia mengatakan seperti ini " dari mana Banjarnegara bisa mengetahui hal tersebut? bukan kah Banjarnegara itu kota yang kecil? " lalu Sholeh menjawab " mungkin kecil dimata orang - orang yang tidak pernah menjelajah Indonesia" tetap dengan senyum lebarnya. Teman Sholeh pun kembali bertanya " apa maksudnya? kalau Banjarnegara terkenal, pasti sudah masuk di jajaran kota penting di Indonesia. Dengan rendah hati sambil menatap muka temannya tersebut Sholeh Menjawab " saya akan jelaskan padamu setelah selesai OSPEK ini".
Jawaban Sholeh tersebut membuat temannya bingung dan bertanya - tanya, mengapa tidak dijawab Sholeh sekarang? mengapa harus menunggu OSPEK nya selesai? Pertanyaan itu tentu akan membentuk beberapa dugaan dugaan dari teman Sholeh yang baru kenal di hari ospek tersebut.