Sabtu, 14 Mei 2011

Banjarnegara di mata punggawa ( Pengganti tulisan hari Jum'at yang Hilang, 13 Mei 2011 )

Ketika seseorang pergi meninggalkan kota yang selama itu menjadi bagian hidupnya, tentu saja orang tersebut berharap dia mendapat background yang kuat dimata penduduk kota lain. background yang kuat itu tidak lebih hanya sebagai nilai prestise agar orang yang merantau dapat dikenali identitasnya dari mana dia berasal. Seperti halnya salah satu teman saya yang merantau di salahs atu kota. Sebut saja Sholeh. Soleh berhasil mendapatkan beasiswa untuk meneruskan belajar di salahs atu Universitas Favorit. Ketika Sholeh sampai di Kota tujuannya, dengan kepala tegak Sholeh memperkenalkan diri didepan bapak dan ibu kos. " pak, bu , saya dari Banajrnegara, saya mau kuliah di Universitas INI. Mohon bimbingan bapak dan ibu karena saya akan emnetap sebagai warga kos bapak dan ibu" dan jawaban bapak kos adalah " owalah, sekarang Indonesia memiliki negara bagian ya, Banjarnegara, kalau boleh tau kapan merdekanya? kok saya ga tau? maklum dek, bapak sibuk urusan pekerjaan". Sontak Sholeh meneguk air liurnya dan menggarukan tangan di kepalanya. Sholeh cuma menjawab " kami masih orang Indonesia pak." diakhiri dengan senyuman.
Tentu saja cerita dari teman saya itu membuat saya semakin yakin bahwa tidak salah orang menyebut suatu kota dengan sebutan apapun karena setiap orang memiliki hak untuk melakukan pencitraan.n Pencitraan dimana kota tersebut berarti belum memiliki branding yang luas. Banjarnegara, ya Banjarnegara. Untuk para punggawa Banjarnegara, nama kota Banjarnegara adalah sebuah tepukan dada ( ketika seorang pemain sepak bola berhasil mencetak gol dan mencium lambang tim nya ) untuk jalan ke depan. Karena dari segi apapun, saya selalu mengenal orang - orang hebat di Banjarnegara. Tentu saja merka memiliki kredibilitas nomber wahid di bidangnya. Para punggawa Banjarnegara seperti Sholeh tentu memiliki kebanggaan sendiri menjadi warga " yang tak" dikenal kebanyakan orang. Karena ada peribahasa " merendah untuk meroket ". Cerita Sholeh ini merupakan bagian awal dari apa yang akan saya ceritakan tentang Banjarnegara dimata saya, tentu saja dengan perspektif yang sangat subyektif dari penulis. Semoga menginspirasi. :-)

Rabu, 11 Mei 2011

Keringat Air Mata

Merekatkan tangan dan mengencangkan tali sepatu berwarna kuning layu membuat suatu terik didepan kamar kos saya lebih bersinar. Terik tersebut lebih bersinar ketika sepasang sepatu sudah mendapatkan isinya. Isi dengan selurun tulang dan telapak yang menandakan adanya sebuah motivasi dan keinginan untuk melakukan sesuatu yang bersifat kata kerja, Running. Sore tadi bersama sahabat terbaik saya di Jogjakarta, Donjuan Aswin Mustafidz melakukan sebuah "inovasi" baru dalam membuktikan kebiasaan yang sering kita lakukan dan sangat sulit dihentikan, yaitu merokok. Asap manis rokok dan hempasan Co2 membuat saya memiliki motivasi untuk mempertahankan pendapat saya bahwa merokok adalah sebuah inspirasi. Entah itu inspirasi otak atau inspirasi untuk mulut. Tentu saja yang namanya inspirasi adalah seuah kumpulan dari gagasan ide ( menurut guru SD saya ) yang akan menciptakan sebuah hasil yang baru. 
Ternyata hasil baru tersebut adalah adanya keringat yang mengucur deras melalui pori - pori tubuh saya. Route sepanjang Gejayan hingga Jalan Kaliurang ( JAKAL ) terpaksa saya potong menjadi setengah route karena saking tidak kuatnya lari sepanjang itu di hari pertama "come back" berolah raga lari. Tujuan utama sebenarnya ada dari opsi yang saya berikan kepada sahabat saya tersebut untuk olah raga lari. Tujuannya yaitu untuk merasakan adanya dampak yang sangat jelas bahwa asap rokok maupun asap yang lain membuat daya tahan tubuh kita berkurang. Itu semua terbukti ketika baru setengah jalan saya dan Aswin memberhentikan diri untuk istirahat dengan jalan - jalan keil karena pernafasan yang terganggu.
Tujuan itu hanyalah obyektif langsung ( direct objective ) yang ingin di dapatkan saya dan sahabat saya tadi sore. Ada alasan tersendiri mengapa saya kembali melakukan aktivitas berlari di sore hari. Saya merindukan suasana dimana saya mengenakan kostum bernomor punggung 8 dan men-Dribble bola basket untuk saya passing dan shooting di lapangan. Ya, karena itulah saya kembali melakukan aktivitas ini. Entah mengapa di suatu malam saya meneteskan air mata ketika melihat foto saya bersama sahabat - sahabat saya dengan kostum " SMA NEGERI 1 BANJARNEGARA" dan membawa piala benrbentuk dtangan yang menggenggam dunia. Saya merasa tertantang untuk kembali melakukan suatu hal krusial yang hilang selama ini. Seolah saya kehilangan nyawa seperti di adegan Harry Potter yang sedang bertarung dengan Lord Voldermouth dan nyawa terlihat tertarik ke atas. Adegan itu membuat saya teringat disuatu masa ketika teriakan - teriakan semangat saya dengar dari bangku penonton yang memenuhi lapangan pertandingan bola basket. Kali ini, tetesan air mata yang meluncur di malam hari akan saya ganti dengan keringat yang mengucur deras selama saya berlatih dan saya akan bertanding kembali di suatu kompetisi bola basket untuk kembali mendapatkan nyawa saya sebelum Lord Voldermouth menggunakan kekuatan penuh dalam mengambil jiwa saya. Semoga menginspirasi,

Selasa, 10 Mei 2011

Hello CK, Hello Platinum, Hello my wasting time

Sudah sangat lama saya tidak bermain di warung internet atau biasa disebut dengan warnet. kali ini saya mencoba untuk menulis di tempat berbeda. Biasanya teman - teman saya menulis dengan gaya bahasa yang berbeda, akan tetapi saya mencoba menulis pada tempat yang ber beda. malam hari ini tepatnya pukul 11. 30 PM saya beserta teman - teman kampus saya menghabiskan waktu mengobrol di CK. Sebelum keberangkatan sebenarnya saya sudah memiliki tema untuk menulis, akan tetapi saya mencoba melakukan proses yang dikatakan salah satu dosen kebangaan komunikasi, Prof. Nunung Prajarto bahwa lakukanlah menulis dimana saja. Ya, saya sedikit mengambil setting perasaan subyektif saya berasal dari wasting time atau menghabiskan waktu di CK beserta teman - teman dari komunikasi. Alasan saya untuk menghabiskan waktu adalah saya ingin benar - benar mencoba menjadi "penulis" yang memiliki emosi sebelum menulis. Mas Nunung, Sapaan akrab dosen saya itu pernah mengatakan bahwa apabila kita menulis tanpa perasaan layaknya kepada pasangan, maka saya akan menulis mentah layaknya memasak jamur tanpa air garam dan bumbu sayur yang dimasak terlebih dahulu.
Circle K merupakan salah satu tempat menghabiskan waktu untuk mengobrol dengan teman - teman yang cukup nyaman. mengapa nyaman? tentu saja namanya orang mengobrol pasti membutuhkan ugo rampe atau hidangan sebagai penghalus obrolan. Obrolan yang kali ini dibahas adalah masalah KKN dan orbolan masalah tanggungan tugas yang belum selesai dikerjakan. Kami sengaja membuka obrolan tersebut di CK agar supaya bisa mencairkan suasana karena kita sudah terlalu jenuh dnegan ukuran ruang kelas atau ukuran perpustakan yang seni bangunannya terlalu mengkotak - kotakan pemandangan. CK memiliki satu poin tambahan ketika kita membuka obrolan, yaitu ruang tanpa batas seperti pemandangan ke langit dan minuman kedamaian seperti bir dan beberapa rokok sebagai asap penghangat pikirian. Sungguh sistem seperti ini sangat saya dambakan karena saya buka tipe orang yang bisa di kota - kotakan pemikirannya, saya merasa harus melakukan sesuatu yang berbeda untuk membuktikan sebuah ungkapan dari seseorang yang berkopentensi, dan kemungkinan besar memang menulis dimana saja jauh lebih membuka pkiran saya. Ya, kali ini saya beserta teman - teman mampu memberikan sebuah solusi tersendiri yang dekat dengan nilai aplikatif dan dekat dengan nilai - nilai "kefisipolan" karena orang sosial tidak menyukai sesuatu yang dibuat sistematis seperti KIK yang abru saja berlaku. ( kemungkinan curhat pribadi si ). Kami mencoba membuka sebuah obrolan dari :
1. aroma bir Carlsbaerg yang membuat saraf otak lebih tinggi dalam berimajinasi.
2. hangatnya aroma Sampoerna mild dengna kemasan yang baru membuat desain berfikir kami lebih baru dan lebih aplikatif.
3. Rasa kacang kulit yang lebih manis membuat perbincangan lebih manis dari terbuka lebar layaknya memasukan kacang ke mulut.

Proses seperti itulah yang kami cari disini. Saya masih berharap esok hari saya bisa menulis ditempat yang lain agar supaya setting emosi saya berbeda. Semoga menginspirasi. terimakasih.

Senin, 09 Mei 2011

Peringatan, entah itu yang namanya sebuah budaya Jawa atau sekali uang tetap uang ?

Malam ini tepatnya tanggal 9 Mei 2011 saya mendapat peringatan mengenai pelunasan administrasi kontrak kamar kos saya. Saya memiliki kekurangan sebesar Rp 300.000,- dari tahun ini. Sebelumnya saya pernah berkonsultasi dengan pemilik kos bahwa kekurangan bisa saya bayar sebulan sebelum KKN dan beliau bisa memaklumi. Akan tetapi sekarang hal inis angat berbanding terbalik, saya diberi surat peringatan pemutusan kontrak hingga bulan Juli 2011. Entah bagaimanapun caranya saya harus pergi dari ruangan ini, dimana saya menulis 31menulis ini. Ruangan yang selama ini menjadi saksi perjuangan hidup saya selama merantau. Saya rasa saya merasa di rumah ketika memasuki kamar kos saya ini. Saya akui memang saya salah dengan kekurangan administasi saya. Sebenarnya orang tua saya sudah memberikannya sejak lama, akan tetapi waktu itu uang sebesar Rp 300.000,- saya gunakan untuk membantu teman yang tidak mampu. Sampai sekarang seharusnya uang itu sudah ada, akan tetapi karena kelupaan saya membayar kepada ibu kos, saya harus mendapatkan surat peringatan ini. Terus terang saya sangat terpukul dengan surat tersebut. Mengapa saya terpukul? saya memiliki beberapa alasan, yaitu :
1. Saya sebagai penghuni lama yang selalu bersedia patuh dengan peraturan, karena alasan ini saya harus di putus kontraknya maka saya merasa "kurang" adil.
2. Saya mengajak banyak teman - teman saya untuk bermain di kos saya dan itu banyak menguntungkan bagi administrasi kos karena kos memiliki kantin. Semakin banyak yang beli makanan di kantin maka semakin banyak pula pemasukan pemilik kos.
3. Kesopanan sangat saya junjung terhadap apa yang diharapkan oleh lingkungan kos, akan tetapi ibu kos selalu memandang administrasi.

Ketiga alasan tersebut sebagai perspektif subyektif saya pribadi. Apabila saya mengeluhkan betapa banyaknya kekurangan di kos ini, akan tetapi saya selalu memberikan solusi bersama teman - teman kos. Alhasil, ibu kos memandang dari segi administratif lagi. Jujur saya sangat betah di kos ini karena suasana yang tak bisa saya dapatkan di tempat yang lain. Saya bertahan disini karena suasana, itu yang say cari. Tulisan ini saya buat sebagai keluhan saya. Mungkin ibu kos tak mau mendengar, akan tetapi saya yakin akan memberikan banyak pelajaran pada peserta 31menulis. Saat ini semua tetap tergantung pada administratif, apapun itu. Semoga teman - teman bisa bijak dalam menyikapi administratif suatu hal. Saya sekarang hanya bisa berharap kepada keajaiban untuk tetap tinggal di tempat yang super nyaman ini sekalipun bersifat administratif. :-)

Minggu, 08 Mei 2011

MERAH dan GLORY GLORY UNITED

Glory Glory Man. United !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
dan demi apapun hari ini saya hanya inngin menuliskan kata - kata tersebut. Sebuah susunan kata yang memuliki banyak sejarah dan banyak arti bagi seluruh element Manchester United. Entah mengapa sejah saya umur 7 tahun saya sudah menukai warna Merah dan entah mengapa setiap orang tua saya membaca suatu surat kabar ( Khusunya Suara Merdeka da Bola ) saya hanya mencari bagian olahraga nya saja. Mungkin saya bukan pelaku aktif olah raga atau biasa dikatakan atlet. Akan tetapi satu hal yang membuat diri saya tertarik dan menarik kedalam sebuah pemberitaan olah raga adalah adanya warna merah. Sekali lagi saya mengucap kata "entah mengapa" dan tiba - tiba saya jatuh cinta pada Manchester United. Saya m encoba menelisik kembali, dan kemungkinan pikiran saya terkonstruksi oleh warna merah dan banyaknya tulisan - tulisan mengenai sejarah Man. United. Itulah mengapa saya hari ini hanya ingin berbicara mengenai MERAH dan Glory Glory United!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Jumat, 06 Mei 2011

Gegirangan dan Lepas yang sesungguhnya dari naluri pria

Hari ini sudah masuk dalam hari ke 5 acara Soundtrackustik2011. Acara setiap tahunan yang sangat fenomenal ini kembali menggelar beberapa lomba yang menarik. Diantara lomba - lomba tersebut, terdapat salah satu lmba yang cukup menyedot perhatian pria, yaitu Lomba PES 2011. Lomba tersebut mendapat respon yang cukup baik dari beberapa angkatan seperti 2006, 2007, 2008,2009, 2010, dan yang sangat fenomenal adalah kehadiran dosen muda dari komunikasi, Mas Dadok. Bisa dilihat dalam event ini betapa pria mau menghabiskan waktunya untuk menikmati lomba PES 2011. Bukan kemenangan atau apa yang dicari, akan tetapi sebuah "eksploitasi gaya" dimana para pria bisa mengucapkan kata - kata yang mewakili perasaannya ketika bermain, pria mampu bergaya dan satu hal yang sangat aplikatif adalah pria mampu mengimajinasikan idola sepakbola mereka melalui media PS3. Inilah yang disebut mediator sesungguhnya. Mediator yang benar - benar mampu mewakili kemampuan seseorang.

Kamis, 05 Mei 2011

"Skill" Belum Tentu bisa "Kill" Disetiap Pertandingan

"Fisipol!!! Fisipol!!!! Fisipol!!!!! FISIPOL BERSATU TAK BISA DIKALAHKAN!!!!!!" ayunan drum beserta teriakan suporter mulai ku dengar detaknya kembali. Detak itu seolah memanggil jiwa yang tertidur selama ini. Entah sengaja menidurkan jiwa atau memang sudah merasa tidak mampu. Entah yang mana yang sebnarnya akan di banggakan diantara jiwa yang mati atau ketidak mampuan. Kebimbangan seperti itulah yang baru saja saya rasakan ketika melihat Tim Basket Fisipol bertanding dalam event tahunan " Female Sport" yang digelar oleh anak - anak dari Fakultas Teknik, tepatnya jurusan teknik elektro. Teriakan suporter, pemain yang mengayunkan tangannya untuk membawa bola, dan detik waktu yang terus berjalan menginagtkan ku kembali pada perkataan salah seorang kawanku. Ingatan yang membawaku berkendara ke 4 Tahun silam dimana saya tepat berada pada kerumunan Ratusan orang yang mendukung SMA 1 Banjarnegara dan SMA 1 Purwokerto. Sehari sebelumnya, salah seorang kawanku berkata " tidak semua Skill dapat meng - Kill lawan - lawanmu, apalagi bisa membawa kemenangan". Lalu aku balik bertanya," lalu apa yang bisa membawa kemenangan bagi tim di partai puncak?" jawabnya adalah " KEPERCAYAAN DAN KEJUJURAN". Sebenarnya saya belum begitu memahami dua kata tersebut. Ternyata setelah pertandingan final usai, saya baru mengerti arti kedua kata tersebut. Arti kedua kata tersebut adalah kepercayaan terhadap teman satu tim dan kejujuran hati untuk yakin bahwa satu tim adalah 5 nyawa yang tak bisa dipisahkan.
Kejadian ini tersentak saya bawa kembali di pertandingan basket " Female Sport" yang baru saja usai. Ada salah satu tim yang memililiki "pemain istimewa", kepercayaan diri tim mulai mengangkat ketika tim tersebut unggul 16 - 0. Akan tetapi tim lawan berhasil membalikan keadaan dengan skor akhir 23 - 36. Sungguh kejadian yang sangat dramatis. Tim lawan berhasil mematahkan permainan pemain hebat tersebut dan sialnya , pemain hebat tersebut hanya bermain 2 orang. Padahal kita ketahui bahwa satu tim terdiri dari 5 pemain. Sungguh sesuatu yang bisa dipetik pelajaran bahwa Skill belum tentu mampu meng - Kill lawan. Skill bisa menjadi Kill bagi lawan ketika Skill tersebut digunakan dengan KEPERCAYAAN dan KEJUJURAN. :-)